Sukses

Moco, Cara Baru Membaca Buku

Citizen6, Jakarta Bagi para pecinta buku, mulai sekarang ada cara baru yang lebih menyenangkan untuk membaca buku. Sebuah aplikasi buatan anak negeri yang dibuat untuk meningkatkan minat baca masyarakat yang terkenal sangat rendah. Menurut survey pada tahun 2012, hanya ada 1 orang dari 10 ribu orang yang berminat membaca buku.

Nama aplikasi tersebut adalah moco. Menurut Bernardus Indra Yustiawan, Head of Communication Aksara Maya selaku pengembang aplikasi nama ini diambil dari bahasa jawa di acara Meet the Writers yang diadakan di Senayan City Jumat (18 Juli 2014

Masih menurutnya, di aplikasi moco ini, setiap user yang sudah download aplikasinya bisa meminjam, menyewa atau membeli buku digital. Asyik kan? Di aplikasi moco terdapat fitur e-pustaka yang isinya ratusan bahkan ribuan buku yang beberapa bisa dibaca dengan gratis.

ePustaka adalah semacam perpustakaan buku digital tempat pembaca bisa meminjam, memebaca danmengembalikan buku digital dengan cepat dan mudah tanpa terbatas ruang dan waktu yang dapat diakses dengan multi device.

Bagi penulis, kalian bisa juga menerbitkan buku digitial disini. Seperti pada penerbit konvensional, menerbitkan di moco juga harus melalui seleksi dari para editor.

Acara sekaligus buka puasa bersama itu dihadiri puluhan dari teman moco, sebutan onliner yang telah mendownload aplikasi keren ini,. Acara Meet the Writers ini menghadirkan dua penulis muda yang bukunya sudah diterbitkan Moco, yakni Adya F penulis Redwood Town dan Riiku Hanazawa penul;is Imagination of Love.

Mendwonload  aplikasi moco juga banyak keuntungan, karena para user juga bisa berinteraksi dengan sesama member. Tentu ini sangat menyenangkan ketika banyak orang yang mempunyai hobi yang sama berkumpul di satu tempat.

Di Moco, karena semua bukunya berbentuk digital tanpa kertas maka dengan mengunduh aplikasi moco, kita juga ikut mensukseskan kampanye go green. Bagi penyuka buku kini tak harus repot membawa buku yang berat kemana-mana karena semua buku ada dalam satu genggaman.

Pertanyaanya, apakah mengubah perilaku membaca buku dari buku kertas ke buku digital ini berjalan mulus? Apakah moco yang punya akun twitter @mocoisme ini bakal mengancam keberadaan toko dan penerbit buku konvensional?  Hanya waktu yang akan menjawabnya?


Disclaimer:

Citizen6 adalah media publik untuk warga. Artikel di Citizen6 merupakan opini pribadi dan tidak boleh menyinggung SARA. Isi artikel menjadi tanggung jawab si penulisnya.

Anda juga bisa mengirimkan artikel, foto atau video seputar kegiatan komunitas, kesehatan, keuangan, wisata, kuliner, gaya hidup, sosial media, dan lainnya ke Citizen6@liputan6.com

Saat ini Citizen6, juga mengajak blogger untuk kolaborasi. Jika punya postingan baru, kirim alamat atau url websitenya ke kami. free.

Artikel Selanjutnya
Unik, Memasak dengan Teknik Origami yang Tak Biasa
Artikel Selanjutnya
Idolakan Doraemon Buat Gadis Ini Menguasai 3 Bahasa Asing