Sukses

KOLOM BAHASA: Setiap Orang atau Masing-masing Orang?

Liputan6.com, Jakarta Saya ingat, sebuah percakapan pernah terlontar. “Masing-masing orang besok bawa baju ganti ya,” kata teman saya. “Setiap orang,” saya mengingatkan. Teman saya terdiam sebentar, “Eh masing-masing atau setiap ya? Itu sama aja, kan? Sinonim,” ujarnya kemudian.

Jadi, apakah benar masing-masing dan setiap adalah sinonim? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita sedikit melongok ke teori. Salah satu buku klasik linguistik karya Palmer (Semantics, 1981) mendefinisikan synonymy is used to mean sameness of meaning. Pengertian tersebut memberitahukan kita bahwa kesinoniman digunakan untuk menunjukkan hubungan dua kata yang memiliki kesamaan makna (sameness of meaning).

Sementara itu, pakar linguistik Indonesia, Kridalaksana (1984: 179) mengatakan bahwa sinonim adalah bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk lain. Dalam pengertian tersebut, Kridalaksana menuliskan kata mirip. Mirip bermakna ‘hampir sama atau serupa’, yang artinya tidak benar-benar sama. Dalam hal ini, kita bisa menyatakan bahwa sepasang kata yang bersinonim tidak 100 persen dapat saling menggantikan dan berterima.

Dalam acuan lain, seorang legenda dalam dunia ilmu bahasa dan tata bahasa Indonesia, Gorys Keraf, pernah menegaskan bahwa sinonim tidak dapat dihindari dalam sebuah bahasa. Pria bernama lengkap Prof Dr Gregorius Keraf (Diksi dan Gaya Bahasa, 1984:33) itu setidaknya menyebutkan ada tiga hal yang menyebabkan terjadinya sinonimi dalam bahasa: (i) Penyerapan dari bahasa asing, (ii) Penyerapan dari bahasa daerah, dan (iii) makna emotif dan evaluatif.

Pada penyebab (i), misalnya, bahasa Indonesia sudah mengenal hasil, tapi kita masih menyerap produksi (production, bahasa Inggris); atau karangan tapi kita menyerap esai (bahasa Inggris), risalah (bahasa Arab), atau makalah (maqalatun, bahasa Arab). Hal yang sama juga terjadi pada bahasa daerah, misalnya pasangan sinonimi tanah liat-lempung atau ubi kayu-singkong. Adapun penyebab (iii) lebih banyak menyinggung soal rasa bahasa, misalnya ekonomis-hemat-irit.

Misalnya kalimat (1) Masing-masing foto memperlihatkan setiap sisi (sumber: Tekno Liputan6.com, “Inikah Penampilan Galaxy J7 (2016)?”). Pada penggalan kalimat itu, kata masing-masing seakan bisa menggantikan dan berterima jika diganti dengan setiap, yaitu Setiap foto memperlihatkan setiap sisi. Namun benarkah kata masing-masing dan setiap bisa saling menggantikan dan berterima dalam semua konteks kalimat?

Pada kalimat (1) rasanya kita tidak kesulitan mencerna makna ketika masing-masing dan setiap saling dipertukarkan. Namun, mari kita lihat kalimat (2) Masyarakat sejak pagi hari telah mengurung diri dalam rumah masing-masing (sumber: News Liputan6.com, “Bali Malam Ini Gelap Gulita”). Sekarang coba kita ganti masing-masing pada kalimat (2) dengan setiap: Masyarakat sejak pagi hari telah mengurung diri dalam rumah setiap. Kita mulai menemui masalah ketika mengganti masing-masing dalam kalimat (2) dengan setiap. Struktur sintaksis (tata bahasa) dan semantik (makna) menjadi tidak berterima.

Untuk menjawabnya, mari kita lihat kelas katanya. Masing-masing berkelas kata pronomina (kata ganti) yang menyatakan milik, sementara setiap berkelas kata numeralia (kata bilangan). Berdasarkan kelas katanya, pronomina tidak seharusnya diikuti kelas kata nomina (foto) dalam kalimat (1), tapi diikuti kelas kata verba.

Ini berbeda dengan setiap yang berkelas kata numeralia yang sepatutnya diikuti kelas kata nomina (foto). Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dilihat bahwa masing-masing dalam kalimat (1) tidak tepat, karena foto berkelas kata nomina (kata benda). Penggunaan setiap pada kalimat (1) lebih tepat, yaitu Setiap foto memperlihatkan setiap sisi. Sementara dalam kalimat (2) sudahlah tepat penggunaan masing-masing sehingga tidak perlu diubah lagi.

Dari uraian tersebut, sejatinya masing-masing dan setiap tidaklah benar-benar bersinonim karena tidak selalu dapat menggantikan dan berterima dalam semua konteks kalimat. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Gorys Keraf (1984:34) bahwa dalam ilmu bahasa murni sebenarnya tidak diakui adanya sinonim-sinonim. Tiap kata memiliki makna atau nuansa makna yang berlainan, meski kadang terdapat tumpang tindih makna.

Ketumpangtindihan makna inilah yang membuat orang menerima konsep sinonim yang kita bahas di atas. Karena itu, kecermatan dan kepekaan berbahasa dibutuhkan untuk menempatkan kedua kata ini sesuai konteks kalimatnya.