Sukses

KOLOM BAHASA: Pertentangan Kelas dalam Bahasa Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Bukan. Tulisan ini bukan soal pertentangan kelas yang acap kita temui saat membicarakan pemikiran Karl Marx. Kelas yang saya maksud di sini adalah kelas kata, bukan kelas sosial. Karena setelah dipikir-pikir, pertentangan kelas itu ternyata juga terjadi dalam kelas kata.

Tidak percaya? Coba Anda tonton televisi dan pantau pariwara yang berseliweran. Bila Anda sedikit jeli menangkap beberapa kalimat atau frasa, tampaklah pertentangan kelas itu.

Simaklah kalimat seperti “pancarkan cantikmu”, “buktikan suksesmu”. Dalam hal ini, “cantik” yang kelas katanya adjektiva diperlakukan sebagai nomina. Padahal, adjektiva “cantik” harus mengalami proses morfologis untuk menjadi nomina. Hal ini dilakukan dengan menambahkan imbuhan ke-an, sehingga menjadi “kecantikan”. Begitu juga dengan sukses, yang kemudian akan menjadi kesuksesan.

Bagaimana pun, kesalahan seperti ini akan menjadi masalah ketika kita hendak menyusun sebuah kalimat. Bahkan, untuk membuat sebuah kalimat sederhana pun, kekeliruan ini bisa menimbulkan kerancuan. Dalam kalimat sederhana, subjek biasanya akan ditempati oleh kata berkelas kata nomina atau pronomina, predikat umumnya ditempati oleh kata kerja, dan objek ditempati kelas kata yang sama dengan subjek. Nah, adjektiva menjadi pelengkap untuk predikat ataupun subjek dan predikat.

 


Sayang sekali, tampaknya masyarakat kita tak memiliki “kesadaran kelas” dalam menempatkan kelas kata sesuai dengan khitahnya. Namun, bukankah ada pula kata yang masuk dalam dua kelas kata sekaligus? Ya, tapi itu tak banyak, dan kita pun masih perlu menggunakannya dalam kalimat dengan tepat dan sesuai dengan konteks. Misalnya, kata ritual yang merupakan adjektiva sekaligus nomina (lihat KBBI).

Hatta, kata ritual ini akan membawa kita pada pembahasan lainnya. Kata ritual sebenarnya merupakan kata turunan dari ritus, yang benar-benar merupakan kata dasar dan berkelas kata nomina. Namun, ketika telah mendapat imbuhan asing –al, entah kenapa ritual tetap mempertahankan makna sebagai nomina.

Ini memang merupakan pengecualian, karena kata serapan tersebut juga masuk dalam dua kelas kata dalam bahasa asalnya (baca: Inggris). Dalam KBBI edisi keempat pun demikian.

Hal senada juga berlaku pada kata fundamental. Dalam bahasa Inggris, lema ini masuk dalam dua kelas kata pula, yaitu adjektiva dan nomina. Namun, sayangnya, lema ini dalam KBBI edisi keempat hanya berkelas kata adjektiva. Untuk menjadi nomina, fundamental tetap harus menggunakan kata dasar, yakni fundamen.

Hal ini akan bermasalah ketika kita harus menerjemahkan fundamental berkelas kata nomina dari bahasa Inggris. Fundamental of economic dan fundamental of algebra adalah contoh frase dengan kata fundamental yang merupakan nomina, yang berarti pokok atau asas.

Tentu saja akan kurang tepat bila kita terjemahkan itu menjadi ekonomi fundamental dan aljabar fundamental. Konjungsi of dalam kedua kalimat itu membuat susunan frasenya adalah diterangkan-menerangkan, sama seperti susunan frase pada umumnya dalam bahasa kita. Jadi, fundamental tetap harus diletakkan di awal frase. Dengan begitu, kita pun akan mendapati fundamental ekonomi dan fundamental aljabar. Aneh, bukan? Dan, ya, terjemahan inilah yang dipakai di beberapa surat kabar, atau mungkin terbitan yang lain.

Ini jelas janggal, karena bahasa kita tidak (atau mungkin belum) mengenal fundamental sebagai nomina. Hanya sebagai adjektiva. Dan adjektiva tentu tak boleh diletakkan di awal frase karena akan menyalahi kaidah diterangkan-menerangkan (DM). Fundamental, agar tak bermasalah, harus diterjemahkan lagi menjadi asas atau pokok, seperti yang tertera dalam kamus terjemahan Inggris-Indonesia. Nah, jadi bolehlah kita sementara ini menggunakan pokok ekonomi dan pokok aljabar sebagai terjemahan. Ini akan menghindari kejanggalan dan pertentangan kelas kata yang terus terjadi ini.

Kata serapan lainnya pun kerap keliru dalam penempatannya. Kronologis, misalnya, yang merupakan adjektiva turunan dari kata serapan kronologi. Kata ini juga sering tertukar dengan kata kronologi yang merupakan nomina. Acap kali kita menemui seseorang berkata, “Tolong, Anda jelaskan kronologisnya terlebih dulu.” Padahal, yang tepat adalah kronologi, karena berfungsi sebagai objek. Dan, seperti telah dijelaskan sebelumnya, objek tak bisa ditempati oleh adjektiva.

Di sinilah “kesadaran kelas” diperlukan, tepatnya, “kesadaran kelas kata”. Sebab, bagaimana pun sebuah kata harus menjalankan fungsinya dengan baik agar sebuah maksud dapat disampaikan dengan jelas. Dan pengkelasan kata yang tepat akan memudahkan mereka berada pada jalurnya, pada maknanya. Jangan sampai pertentangan kelas ini menghadirkan adanya revolusi dan…. Ah, lebih baik jangan diteruskan. Bisa-bisa tulisan ini nanti dituduh subversif.

*Edy Sembodo adalah editor di sebuah kantor media, alumnus Sastra Indonesia Universitas Indonesia.