Sukses

KOLOM BAHASA: Memahami antara Memenangkan dan Memenangi

Liputan6.com, Jakarta - Pada kata menang, kita seringkali bingung menentukan bentuk kata yang tepat, apakah memenangkan atau memenangi? Meski sama-sama berkata dasar menang, kedua bentukan kata ini memiliki arti yang sangat berbeda.

Nah, jadi bagaimana bentuk –kan dan –i ini dipakai di media cetak? Mari kita lihat contohnya.

2 Alasan Warga Bidaracina Menangi Gugatan PTUN Sodetan Ciliwung (Liputan6.com/29 April 2016)

Jokowi: Pembangunan Infrastruktur Kunci Menangi Persaingan Global (Liputan6.com/19 Maret 2016)

Pusamania Menangi Derby Kaltim (Liputan6.com/ 24 Maret 2016)

Tampaknya kata memenangi sudah lebih populer dibandingkan dengan kata memenangkan. Apakah penyebab derasnya perpindahan bentuk -kan ke –i itu?

Bambang Kaswanti Purwo dalam “Memenangi Pertandingan, Merindui Bulan” menyebutkan, barangkali itu dipicu tulisan JS Badudu, sang pelopor bahasa Indonesia yang baik dan benar, di Intisari pada September 1994.

JS Badudu menegaskan bahwa pemakaian memenangkan pada sepenggal kalimat memenangkan pertandingan itu salah kaprah. Menurut Badudu, yang benar adalah memenangkan seperti pada kata memenangkan yang lemah. Untuk mengacu pada sikap menjadikan sebagai pemenang, JS Badudu berpendapat bahwa bentuk -i lebih tepat dipakai.

Jadi benarkah contoh kalimat: 2 Alasan Warga Bidaracina Menangi Gugatan PTUN Sodetan Ciliwung?

Dalam kalimat di atas, bermakna bahwa warga Bidaracina memenangkan gugatan PTUN Sodetan Ciliwung. Artinya, warga Bidaracina kalah.

Kalau kita merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, nyatanya kata memenangkan dan memenangi ternyata memiliki irisan kata yang berdekatan.

“Memenangkan maupun memenangi sama-sama bisa berarti menjadi pemenang. Contoh yang disodorkan sang kamus, “memenangi perkara” dan “memenangkan pertandingan”. Dalam edisi terbaru dijelaskan, memenangi berarti ‘menang dalam perkara tersebut, mengalahkan’, sementara memenangkan bermakna ‘menjadikan diri sendiri menang; menjadikan diri sendiri yang menang; menganggap satu pihak menang”.

Ayu Utami dalam “Jangan ‘i’ ‘kan’ bias karena biasa” menyebutkan dulu ia membaca judul berita seperti “Tim Sepak Bola Argentina memenangkan Piala Dunia” tapi kini ia membaca “Tim sepak bola Italia memenangi Piala Dunia”

Di lain pihak, Harimurti Kridalaksana di dalam Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (1992) mencatat beberapa makna konfiks me-kan. Konfiks me-kan sekurang-kurangnya memiliki dua makna (a) kausatif (membuat jadi), misalnya menerbangkan (‘membuat jadi terbang’) dan merajakan (‘membuat jadi raja’); serta (b) bermakna benefaktif (dilakukan untuk orang lain), misalnya membawakan (‘melakukan perbuatan bawa untuk orang lain’) dan menuliskan (‘melakukan perbuatan tulis untuk orang lain’).

Sementara, imbuhan me-i bermakna (a) repetitif (tindakan berulang), misalnya melempari, mencabuti, (b) bermakna lokatif (menuruni, menaiki, menduduki) (c) bermakna menyatakan intensitas atau kesungguhan (membasahi, memberesi).

Mari kita kembali ke kasus awal, (1) Warga Bidaracina menangi gugatan dan (2) Warga Bidaarcina menangkan gugatan. Dikaitkan dengan makna me-kan dan me-i yang diungkapkan Kridalaksana, penggalan (1) menyatakan kesungguhan untuk menang, sedangkan pada (2) menyatakan ‘benefaktif’ atau melakukan perbuatan menang untuk orang lain.

Dikaitkan dengan konteks, tentu yang dimaksudkan dalam kalimat di atas adalah warga Bidaracina memenangi gugatan untuk diri mereka, bukan untuk orang lain.

Dari penjelasan di atas, apakah yang bisa kita simpulkan? Tentu sudah dipahami bahwa bentuk –kan dan –i beririsan serta bentuk memenangi bersifat lebih spesifik dibandingkan dengan memenangkan.

Barangkali dalam kata memenangkan, kita dapat menduga bahwa kemenangan diperoleh akibat jasa orang lain. Seperti misalnya dalam kalimat, “Para juri memenangkan Spotlight sebagai film terbaik Academy Award”. Tentu film tersebut layak menang atas penilaian orang-orang kompeten yang disebut juri.

Sementara pada kalimat “Leicester City memenangi Liga Inggris” dapat disimpulkan bahwa kemenangan itu diperoleh Leicester dengan susah payah.

Namun penjelasan ini sangat subyektif lantaran perbedaan nuansa ini tidak tercatat dalam kaidah tata bahasa Indonesia. Karena itulah, kita masih harus lebih cermat lagi menyelidiki apa makna dan karakteristik dari bentuk akhiran –kan dan –i. Sulit? Saya kira tidak harus sempit, kaku, dan lurus karena ternyata perbedaan karakteristik ini menjadi penanda kekayaan nuansa dalam bahasa Indonesia.