Sukses

KOLOM BAHASA: Mari Memasyhurkan Kata

Liputan6.com, Jakarta Pengguna bahasa Indonesia kini patut bersenang hati. Setelah Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) pertama kali terbit pada 2006, kini edisi revisi yang dinamai Tesamoko—tesaurus ala Eko Endarmoko—disajikan ke hadapan khalayak pada 2016. Acara peluncurannya pada Senin, 23 Mei 2016 di Gedung Kompas Gramedia Jakarta sangat terasa dihadiri oleh orang-orang yang mencintai kata-kata.

Sudah lama sekali terasa para pengguna bahasa miskin kosakata. Tulisan mereka kering karena begitu miskinnya diksi yang dipakai. Akibatnya, gagasan yang diusung terasa lemah dan tak menarik. Padahal, seperti dikatakan Eko Endarmoko dalam sambutannya, kata-kata adalah jantung tulisan—wakil yang membopong ide-ide penulis.

 Baca Juga


Terutama dalam media online, yang sering kali dikeluhkan merusak bahasa, nyata bahwa banyak penulis seakan kehilangan kata-kata. Mereka terjebak ingin mendapatkan popularitas melalui kata-kata yang terkesan “canggih”, tetapi sesungguhnya kata-kata yang dipakai begitu datar dan tak bernyawa lantaran terlalu sering diulang-ulang. Seakan menambah dosa, begitu muncul keinginan untuk memakai suatu kosakata baru atau menggali kosakata lama dari khazanah Nusantara, muncul kekhawatiran: bagaimana nanti bila tulisan saya tidak populer? Atau bagaimana bila kata yang saya pakai tidak dimengerti para pembaca?

Maka, upaya Eko Endarmoko mengumpulkan kata-kata ini sesungguhnya adalah sebuah “kegilaan”. Dengan ketekunan luar biasa, Eko Endarmoko memampangkan ke hadapan kita sebuah upayanya dalam mewujudkan kebutuhan orang-orang yang dianggapnya seperti dia. Orang-orang yang sering kali kebingungan mencari kata apa yang tepat untuk mengungkapkan idenya. Karena itulah, Tesamoko berbeda dengan kamus. Jika hendak mencari arti sebuah kata, maka tengoklah kamus. Namun jika hendak mencari makna kata yang berdekatan (sinonim), bukalah Tesamoko.

Namun demikian, sinonim yang sering dianggap sebagai “kesamaan kata” sesungguhnya tidaklah memiliki kedekatan arti yang mutlak. Dalam Tesamoko ini, kata-kata diurutkan dari yang paling dekat maknanya, hingga yang terjauh.

Misalnya pada lema dapat. Dalam Tesamoko dituliskan:

Dapat sin
1. adv becus (cak), bisa, cakap, kuasa, larat, mampu, pandai, sanggup.
2. v a cak terima b capai, peroleh, raih
3. v kena, tertangkap

Dapat kita lihat, pada satu lema dapat, dimasukkan jaringan kata-kata yang bersinonimi. Namun, di tangan para pembacalah, keputusan untuk memakai dan menempatkan kata-kata itu diberikan. Dalam hal itu, apakah kata yang satu dapat digantikan dengan kata yang lain dengan sama persis, itu harus diuji lebih jauh.

Misalnya:
Saya dapat berenang
Saya bisa berenang
Saya cakap berenang
Saya pandai berenang
Saya sanggup berenang

Meski tipis, kita dapat merasakan bahwa dapat dan bisa memiliki kesinoniman mutlak, tapi cakap, pandai, dan sanggup secara samar-samar memiliki derajat kesinoniman yang lebih tipis pada lema dapat dibandingkan dengan bisa. Bisa dikatakan bahwa terdapat lapis-lapis makna pada setiap kata yang memiliki pertalian makna.

1 dari 2 halaman

Memakai Tesamoko Harusnya...


Karena itulah, penggunaan Tesamoko ini haruslah diimbangi dengan penggunaan Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai pedoman duet. Dan juga bahwa pembaca Tesamoko harus memiliki pengetahuan bahasa yang memadai.

Bahasa adalah bagian dari tujuh unsur kebudayaan. Bahasa ikut menyokong sebuah peradaban. Maka, seperti diungkapkan Linda Cristanty dalam testimoninya, kepunahan sebuah bahasa adalah kepunahan peradaban. Karena itulah menjadi penting ketika Tesamoko hadir dengan kata-kata baru yang mungkin belum pernah kita dengar, atau bahkan mungkin sudah pernah kita baca dan temukan, lalu terlupakan. Tesamoko memberi petunjuk adanya kata-kata baru di dalam kepala atau kata-kata lama yang belum kita ketahui.

Contohnya:
berselingkuh v sin
1. bermuda, bermukah, main serong, menyeleweng
2. bercikun-cikun, berkolusi, berkomplot, berkongkalingkong, berkonspirasi, bersekongkol, main mata

Selingkuh a sin
1. curang, patgulipat, serong
2. korup

ant jujur

Dalam Tesamoko pula kini dimasukkan antonim sebagai penguat akan arti dan makna kata itu sendiri. Menurut Profesor Riris K. Toha Sarumpaet, antonim dihadirkan bukan untuk mempertegas perbedaan makna kata itu, melainkan untuk menguak hakikat makna kata itu sendiri.

Perlu diingat bahwa sebuah kata memiliki makna jika ia ditempatkan pada sebuah konteks. Seperti diucapkan oleh Neng Dara Affiah, kata tak pernah punya makna esensial, selalu kontekstual. Setelah transit, kata akan memiliki mimbarnya sendiri. Contohnya pada papan yang berisi kalimat “yang buang sampah di sini anjing”, tentu tak akan bermakna jika tidak ditempatkan misalnya dekat sebuah bak penampungan sampah tak resmi.

Dengan demikian, perlakuan terhadap kata dan pemilihan diksi harusnya disertai sebuah upaya sadar untuk menjaga dan merawat bahasa. Sebab, kerja besar ini memang tak bisa dipikul semata oleh Pusat Bahasa dan Badan Bahasa. Kata-kata dalam Tesamoko akan menjadi lebih berarti bila ia dapat digunakan dan dipakai oleh para penulis, sehingga menjadi sebuah senjata yang populer.

Karena itu, barangkali nanti tak ada lagi yang merasa rendah diri dan mengatakan bahasa Indonesia miskin lantaran melalui bahasa Indonesia ia tak bisa mengungkap daya pikir dan daya keilmuannya.