Sukses

Sigale-gale, Boneka Kayu Khas Batak Toba yang Mistis

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia punya segudang tradisi yang sungguh unik dan berbeda. Salah satunya adalah bonekaSigale-gale. Boneka yang terbuat dari kayu dan diselimuti pakaian danulos ini sarat dengan nuansa mistis.

Sigale Gale adalah boneka kayu yang digunakan dalam pertunjukan tari pemakaman orang Batak dari Pulau Samosir, Sumatera Utara. Dalam bahasa Batak, Sigale-gale berarti ‘lemah gemulai’. Gerakan boneka ini memang lambat dan lembut hingga masyarakat setempat menyebutnya Sigale-gale. Menurut foklor setempat, Sigale-gale sebenarnya adalah anak seorang raja. Ia adalah putra tunggal dari Raja Rahat yang memiliki wajah tampan dan satu-satunya penerus keturunan.

Namun, si anak raja meninggal di medan perang. Kematian sang anak menyebabkan rasa kehilangan yang amat besar bagi Raja Rahat. Sang raja pun mengalami kerinduan yang mendalam hingga sakit parah. Penasihat kerajaan lalu mencari tabib di seluruh negeri untuk mengobati sang raja. Seorang tabib kemudian mengusulkan kepada penasihat kerajaan untuk membuat sebuah upacara di kerajaan itu, dan memahat sebuah kayu menyerupai wajah anaknya.

Upacara pun dilakukan. Di sinilah unsur mistis dari si boneka terasa. Sang tabib memanggil roh anak raja tersebut untuk masuk ke dalam boneka kayu yang dipahat menyerupai wajah si anak raja. Saat itu, keajaiban pun terjadi dan boneka tersebut bergerak sendiri. Si boneka bergerak sendiri mengikuti hentakan bunyi gondang (seperangkat alat musik khas Batak).

Dalam catatan Nurelide (2007), Sigale-gale awalnya muncul di daerah Toba-Holbung (Tapanuli Utara), kemudian menyebar ke Pulau Samosir. Di Pulau Samosir, penduduk menyebut Sigale-gale dengan sebutan Raja Manggale.

Boneka Sigale-gale khas Batak Toba

Boneka Sigale-gale dipergunakan pada upacara-upacara kematian. Upacara ini ditujukan untuk orang-orang yang meninggal tanpa mempunyai anak maupun yang mati tanpa meninggalkan keturunan karena semua anaknya mati. Upacara Sigale-gale diadakan terutama bila orang yang meninggal itu mempunyai kedudukan tinggi di masyarakat, seperti raja-raja dan para tokoh masyarakat. Hal itu dilakukan untuk dapat menyambung keturunan mereka kelak di alam baka.

Bagi masyarakat Batak Toba, apabila seseorang yang mempunyai kedudukan meninggal dunia dan ia tidak mempunyai keturunan dipandang sangat hina dan tidak membawa kebaikan. Oleh karena itu, kekayaan yang ditinggalkannya akan dihabiskan untuk mengadakan upacara Sigale-gale bagi orang yang mati itu sendiri. Orang-orang lain tidak akan berani mengambil harta benda tersebut, karena takut tertular atau mati seperti pemiliknya.

Namun, boneka Sigale-gale dewasa ini digunakan untuk tujuan pertunjukan wisata. Hanya kelompok tertentu saja yang masih menjalankan ritual upacara kematian dengan boneka Sigale-gale. Namun demikian, nuansa mistis dan misterius masih menyelimuti bila kita melihat boneka ini.

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini.

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6.