Sukses

Benarkah Mengerang saat Bersanggama Adalah Pertanda Nikmat?

Liputan6.com, Jakarta - Anda mungkin sering mendengar istilah orgasme palsu. Namun pernahkan Anda mendengar istilah sanggama vokalisasi?

Istilah ini terkait dengan 'suara bising' yang dihasilkan seseorang saat berhubungan seksual. Nah, orgasme palsu lebih sering dikaitkan dengan kenikmatan palsu yang diperoleh oleh seorang wanita.

Memang, berkebalikan dengan pria, wanita sesungguhnya tidak mudah dalam meraih orgasme. Lalu, apakah suara yang dihasilkan wanita saat bersanggama menandakan mereka merasakan kenikmatan?

Tidak banyak topik dan penelitian yang mengangkat tentang 'bagaimana perempuan menikmati seks (atau tidak) yang digambarkan dengan cara tertentu.' Namun, apakah benar-benar tidak mungkin mengkaji persoalan yang satu ini?

"Tidak banyak penelitian di bidang ini. Tapi kita dibombardir dengan gambar dan video yang memberitahu kita mengerang dikaitkan dengan orgasme dan kesenangan seksual," ujar Kristen Mark, seorang peneliti seksualitas di Indiana University seperti dikutip dari CNN.

"Dengan kata lain, itu sebenarnya hanya strategi pura-pura yang dilakukan wanita. Sebab, masyarakat sudah kadung mengaitkan mengerang dengan orgasme," tambah dia.

Pada tahun 2011, Gayle Brewer dari University of Central Lancashire dan Colin Hendrie dari University of Leeds menerbitkan penelitian mereka. Hasil penelitian yang disebut "sanggama vokalisasi" tersebut dimuat dalam the Arcvihes of Sexual Behavior.

Subjek penelitian merupakan 71 wanita heteroseksual yang aktif secara seksual. Mereka yang berusia 18-48 tahun itu diberi pertanyaan tentang membuat suara saat berhubungan seks.

Kebanyakan wanita tersebut mengaku mengerang saat berhubungan seks. Namun, mayoritas dari mereka mengungkapkan hal tersebut bukan merupakan indikasi kesenangan atau kepuasan seksual.

Sebaliknya, 66 persen dari wanita mengatakan mereka mengeluarkan suara tersebut untuk memacu pasangan mereka mencapai klimaks dan mengakhiri apa yang mereka lakukan. Sementara 87 persen menjelaskan motivasi mereka melakukan hal tersebut adalah untuk meningkatkan harga diri pasangan mereka.

Para peserta juga mengaku mereka membuat suara bising tersebut untuk menghilangkan kebosanan, kelelahan, dan nyeri atau ketidaknyamanan saat berhubungan seks.

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6