Sukses

KOLOM BAHASA: Memahami Beda Anarkis dan Anarkistis

Liputan6.com, Jakarta - Riuh rendah demo besar yang terjadi sebulan terakhir mau tak mau mendapat sorotan besar. Berbagai imbauan datang agar demo tidak berakhir ricuh dan chaos. Nah, di saat itulah ungkapan anarki banyak digunakan. Namun sayangnya penggunaan itu kurang tepat. Dalam berbahasa, kata anarkis tampaknya lebih populer digunakan ketimbang anarkistis. Akan tetapi, kedua kata itu sering digunakan dalam pengertian yang tertukar.

Sebagai contoh perhatikan kalimat berikut.
(1) Kapolri mengimbau agar para pengunjuk rasa tidak bertindak anarkis.

Apakah penggunaan anarkis dalam pada contoh di atas tepat? Untuk mengetahui hal itu, mari kita lihat dulu pengertian anarkis. Kata anarkis (anarchist) berkelas kata nomina dan bermakna ‘penganjur (penganut) paham anarkisme’ atau ‘orang yang melakukan tindakan anarki’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Dari pengertian itu, anarkis bermakna ‘pelaku’ atau ‘orang yang melakukan’, dan tidak menyatakan ‘sifat anarki’. Padahal, kalimat (1) membutuhkan kata sifat untuk menjelaskan verba “bertindak”. 

Nah, mari kita lihat pengertian anarkistis. Dalam KBBI, anarkistis adalah ‘bersifat anarki’. Adapun anarki adalah ‘hal tidak adanya pemerintahan, undang-undang, perarturan, dan ketertiban; kekacauan (dalam suatu negara)’. Ketika anarkis adalah pelaku, anarkistis menyatakan bersifat anarki (tidak ada pemerintahan, kekacauan), yang dibutuhkan kalimat (1).

Secara etimologis, seperti yang dinukil dari Wikipedia, anarki adalah kata serapan dari anarchy (bahasa Inggris) atau anarchie (bahasa Belanda/Jerman/Prancis), yang juga bersumber dari bahasa Yunani anarchos atau anarchia. Ini merupakan kata bentukan ”a” (tidak/tanpa) yang disisipi ”n” dengan archos atau archia (pemerintah atau kekuasaan). Anarchos atau anarchia berarti ‘tanpa pemerintahan’.

Adapun dalam Advanced English-Indonesian Dictionary (4th Ed) yang disusun Drs Peter Salim, anarchy adalah kata benda yang berarti 'kekacauan, tidak adanya pemerintahan, atau anarkhi (anarki)'. Sementara itu, anarchist (kata benda) berarti 'penganut paham anarkhi (maksudnya anarki)' atau 'orang yang ingin menggulingkan kekuasaan pemerintahan'. Berdasarkan makna yang diungkapkan tersebut, kamus ini senada dengan KBBI.

Mari kembali ke kalimat (1) dan melihat apa yang sesungguhnya dibutuhkan kalimat tersebut. Kalimat ini adalah kalimat aktif dengan subjek pelaku “Kapolri”, dengan predikat verba “mengimbau”, serta objek “para pengunjuk rasa”. Kalimat tersebut memiliki anak kalimat yang ditandai dengan konjungsi “agar”, dan predikat dalam bentuk frasa “bertindak anarkis”.

Bertindak adalah verba yang membutuhkan sesuatu yang menyatakan sifat agar frasa menjadi “bunyi”. Dalam hal ini, bertindak pelaku anarki (anarkis) tidak berterima; sehingga padanan yang tepat adalah bertindak yang sifat anarki (anarkistis). Dengan demikian, kalimat yang tepat adalah sebagai berikut.

(1.1) Kapolri mengimbau para pengunjuk rasa agar tidak bertindak anarkistis.

Sesungguhnya, kata anarkis sejalan dengan optimis ‘orang yang selalu berpengharapan’ dan pesimis ‘orang yang bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik’. Sementara itu, anarkistis dapat disejajarkan dengan optimistis ‘bersifat optimis’ serta pesimistis ‘bersifat pesimis’.

Selanjutnya, bagaimana penggunaan kata anarkis yang tepat? Seperti yang telah dijelaskan di atas, kata anarkis bermakna ‘pelaku’, yaitu ‘orang yang melakukan tindakan anarki’. Oleh karena itu, penggunaannya yang tepat adalah untuk menyatakan ‘pelaku’ atau ‘orang yang melakukan tindakan anarki’.

Contohnya dapat disimak pada kalimat berikut.

(2) Para anarkis diamankan aparat usai demo yang berakhir ricuh.

Dalam kalimat (2), para anarkis menyatakan orang-orang pelaku anarki.

Kekeliruan terjadi di banyak tempat. Ketika sudah tahu mana yang betul, sudah sepatutnya kita lebih “sadar” menggunakan dan memilah mana yang lebih tepat digunakan. Jangan sampai nanti terjadi anarkis, eh...anarkistis—maksud saya anarki.