Sukses

Sprash Terus nge-Rap, Meski Tulang Tak Lagi Menopang Tubuh

Liputan6.com, Jakarta “Saya tidak melihat diri saya cacat. Kebanyakan orang cacat selalu berpikir tentang kelemahan mereka. Tapi saya lebih memilih untuk berani melawan keterbatasan” – Sprash Shah.

Begitulah pesan Sprash agar selalu memiliki semangat dalam mencapai suatu tujuan. Sprash pantas saja mengatakan hal itu karena dirinya memiliki segudang prestasi di usianya yang masih begitu belia. Dia dikenal karena bakat nya sebagai rapper.

Dengan nama Purhytm, di usia 12 tahun, Sprash sudah menunjukkan bahwa mukzizat yang begitu besar ada pada dirinya. Sprash berhasil menjuarai kompetisi bergengsi, Youth Voice New York City pada April 2015.

Sprash kini sudah sering sekali muncul di radio maupun TV. Bahkan bocah asal India ini sudah memiliki 58.000 subscriber di akun youtube-nya, yang menampilkan kebolehannya. Bukan hanya berkaya di musik, tapi penggila Eminem ini juga ahli di bidang teknologi. Sprash bahkan juga memenangkan kompetisi robotics di Amerika serikat.

Di balik hebatnya rapper cilik ini, siapa sangka dia mengidap penyakit Osteogenesis Imperfecta (IO). Penyakit ini sangat langka, dimana penderitanya harus menerima kenyataan memiliki tulang yang rapuh. Kelainan genetic pada Sprash, membuat ia dilahirkan dengan 35 tulang yang sudah patah. Seiring pertumbuhan Sprash, ia akan terus mengalami kerapuhan tulang  karna bobot tubuh yang semakin bertambah.

Karena kualitas kolagen tulangnya yang buruk ini, jangankan untuk berlari seperti anak anak lainnya, untuk berjabat tangan saja tulang Sprash bisa saja patah. Tapi begitulah Sprash, bocah yang menjadikan kekurangan sebagai motivasinya mencari ilham di balik kekurangannya. Dan dia selalu bersukur dengan keadaannya.

Penulis:

Ilham Pratama

Universitas Moestopo

Jadilah bagian dari Komunitas Campus CJ Liputan6.com dengan berbagi informasi & berita terkini melalui e-mail: campuscj6@gmail.com serta follow official Instagram @campuscj6 untuk update informasi kegiatan-kegiatan offline kami.

Artikel Selanjutnya
Volkschool, Sekolah Zaman Belanda Itu Kini Muncul di Jogja
Artikel Selanjutnya
Antusias, Sambutan Peserta Program #EnergiMudaPertamina‎