Sukses

Festival Cap Gomeh 2017 di Bogor Jadi Ajang Pemersatu Bangsa

Liputan6.com, Bogor - Cerita ini bukan soal ramainya Festival Cap Gomeh, melainkan soal kerukunan beragama warga Bogor. Pada 11 Februari 2017, memang sedang diselenggarakan Festival Cap Gomeh 2017 di Jalan Suryakencana, Bogor, yang sudah berlangsung sejak 2000 silam.

Festival ini sempat tidak diselenggarakan selama dua kali karena musibah Tsunami dan meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta. Sementara di tanggal yang sama, di Jakarta, aksi dilakukan oleh ribuan orang yang menolak memilih pemimpin non muslim.

Kontras dengan yang terjadi di Jakarta, perayaan Cap Gomeh 2017 - Bogor Street Festival diselenggarakan sebagai ajang pemersatu bangsa. Seminggu sebelum perayaan ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bogor yang pada tahun-tahun sebelumnya hadir dalam acara ini, melarang umat muslim untuk menonton festival ini. Alasannya, karena mengganggu waktu salat umat muslim sebab diselenggarakan sore sampai malam hari.

Dengan niat sebagai ajang pemersatu bangsa, penyelenggara festival menyediakan tempat salat dan berkali-kali mengumumkan kepada pengunjung untuk tidak meninggalkan salat lima waktu. Acara ini juga dibuka dengan doa dari enam pemimpin agama di Indonesia yang seluruhnya menyerukan persatuan kepada bangsa Indonesia.

Doa enam pemimpin agama tentunya mendapat sambutan meriah karena menujukkan kerukunan beragama Warga Bogor. Walaupun hujan sejak pagi mengguyur kota Bogor, warga tetap antusias untuk menghadiri perayaan ini.

Cap Go Meh sendiri merupakan puncak perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh setiap tanggal 15 bulan pertama dalam tahun tersebut. Perayaan ini sebagai bentuk ungkapan syukur. Patung dewa pembawa berkah Dewa Hok Tek secara biasanya diarak tandu berkeliling kota untuk menebar berkah bagi seluruh masyarakat.

Selengkapnya bisa kamu baca di sini.

(ul)

 

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini.

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6.

Artikel Selanjutnya
Botram Harmoni, Cara Masyarakat Purwakarta Menjaga Toleransi
Artikel Selanjutnya
Kumandang Azan Magrib di Tengah Cap Go Meh Bogor