Sukses

KOLOM BAHASA: Memahami Medan Makna dalam Setiap Kata

Liputan6.com, Jakarta Setiap kata memiliki medan makna. “Tiga perampok menjarah rumah mewah yang sedang ditinggal mudik pemiliknya.”

Apa yang salah dengan kalimat ini? Tergantung sejauh mana kita mau mencermatinya.

Hal yang paling mudah dulu, kata ‘perampok’. Kata ini tidak relevan dengan sasaran rumah kosong. Menurut KBBI, rampok adalah 'orang yang mengambil dengan paksa dan kekerasan barang milik orang'.

Dengan begitu, syarat kekerasan di sini tidak pas atau tidak bisa dilakukan karena tidak ada orang yang menjadi objek tindakannya. Memang ada makna ketiga yang diberikan KBBI, yaitu 'mencuri dalam jumlah yang banyak'. Akan tetapi, nuansanya tidak pas karena lebih sesuai disebut 'pencurian' daripada 'perampokan'.

Lalu, kita bisa langsung menunjuk kata ‘menjarah’ yang pada kalimat ini penggunaannya juga tidak pas. Menurut KBBI, menjarah adalah 'merebut dan merampas milik orang (terutama dalam perang atau dalam kekacauan).

Rumah kosong atau rumah yang sedang ditinggal penghuninya tentu bukanlah situasi kacau, apalagi situasi perang. Memang, ada kata terutama pada keterangan dalam kurung, yang artinya bisa situasi lain selain yang disebutkan tersebut. Cuma, di sinilah tugas kita sebagai penulis, termasuk tentunya reporter, untuk memilih kata yang lebih pas dan lebih dekat untuk mewakili fakta atau peristiwa.

Perlu selalu diingat, setiap kata memiliki medan makna. Jangan sampai reporter menggunakan kata ‘menjarah’ karena berpikir memenuhi prinsip variasi, apalagi ingin mendapatkan efek bombastis.

Ada dua kata lagi yang sebenarnya dapat kita otak-atik jika ingin menajamkan kecermatan berbahasa kita, yaitu mewah dan pemilik. Kedua kata itu bukan berarti salah. Kita perlu melihat dulu faktanya. Pertama, apakah benar rumah itu mewah? Atau ‘hanya’ besar saja? Kita tahu, besar belum tentu mewah dan sebaliknya.

Kedua, apakah benar itu rumah pemiliknya? Orang yang tinggal di sebuah rumah belum tentu merupakan pemilik rumah. Bisa saja dia cuma penyewa.

Reporter perlu mengejar fakta ini bila meyakini ada relevansi dengan fakta-fakta lain dalam berita. Contohnya, jika penghuni rumah tersebut sudah cukup dikenal sebagai orang yang bergaya hidup mewah tapi ternyata ia hanya menyewa rumah tersebut, maka persoalan penggunaan kata ‘penghuni’ dan ‘pemilik’ menjadi penting.

Jika tidak ada dan belum punya informasi soal ini, sebaiknya cukup gunakan kata yang aman dulu, misalnya ‘penghuni’. Prinsip akurasi atau detail lebih pas diulas dengan disiplin ilmu jurnalistik.

Perhatikan ‘hasil’ kata kerja

Dari pengalaman mengajar, sejumlah reporter mengaku suka menukar-nukar kata untuk prinsip variasi atau menghindari pengulangan.

Memegang prinsip variasi tentu bagus, apalagi merupakan salah satu prinsip kalimat efektif pada laras jurnalistik. Namun, penggunaan variasi janganlah mengabaikan makna.

Ambil contoh SBY mengungkapkan bahwa dirinya akan menghadiri acara ulang tahun BJ Habibie. ‘Hanya’ urusan menghadiri acara ulang tahun, hal sepenting apa yang diungkap di sini? Sementara, rasa bahasa kita memahami bahwa kata ‘mengungkap’ lebih relevan digunakan untuk sesuatu yang cenderung rahasia atau sesuatu yang relatif sudah lama ingin diketahui oleh publik dan sangat bikin penasaran.

Ambil contoh, Ketua KPK akhirnya mengungkap sejumlah nama anggota Dewan yang terlibat kasus Bank Century. Atau, publik menanti-nanti vokalis papan atas itu mengungkap identitas ayah si bayi.

Contoh ‘kecil’ lainnya adalah penggunaan kata ‘menyatakan’. Misalnya, Ahok menyatakan harus segera memulai rapat ketika para jurnalis masih mau menyampaikan pertanyaan.

Hasil dari perbuatan menyatakan semestinya berupa pernyataan. Bayangkan bila nanti kata ini digunakan untuk kalimat, misalnya, Jokowi menyatakan lapar kepada Jusuf Kalla usai rapat Kabinet.

Urusan lapar pada konteks ini tidaklah krusial untuk dibungkus dalam sebuah pernyataan. Bandingkan, misalnya, dengan Ketiga pemimpin partai tersebut menyatakan dukungannya kepada paslon nomor urut tujuh.

Untuk fakta ini, kata menyatakan dapat digunakan karena hasilnya adalah ‘pernyataan dukungan’, apalagi publik bisa jadi sudah lama menanti arah dukungan ketiga partai tersebut.

Tentu masih banyak lagi contoh yang dapat dibahas tentang penggunaan kata yang tidak pas atau malah tidak benar. Intinya, setiap kata memiliki medan makna. Sembarangan menggunakan kata-kata semacam ini, apalagi hanya karena dalih prinsip variasi, lama-lama akan membuat kata jadi kehilangan medan makna yang sebenarnya.

 

Penulis: Anwari Natari, pengajar bahasa Indonesia.

Artikel Selanjutnya
Mensesneg: Perlu Metode Tanamkan Pancasila ke Generasi Milenial
Artikel Selanjutnya
Ada 5 Bahasa Kasih dalam Percintaan, Anda yang Mana?