Sukses

Bantu Siswa SMAN 3 Denpasar Harumkan Nama Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Perkenalkan, mereka adalah siswa dari SMAN 3 Denpasar; Fajar, Apta, Adnya, Vira, Surya, Mala, dan Dyo. Sekilas tidak ada yang spesial dari mereka. Namun, satu hal terpendam dalam diri mereka. Adalah mimpi, membawa dan membanggakan bangsa Indonesia di kancah Internasional, melalui bidang penelitian. Melakukan serangkaian project penelitian tidaklah mudah.

Bagi Anda yang sudah pernah mengecap dunia penelitian (paling tidak skripsi), pasti sudah tahu bagaimana rasanya. Namun, kesepuluh remaja itu telah berhasil melampaui segala rintangan itu. Mereka pun kini telah berhasil meraih "kesempatan" untuk mebanggakan Indonesia di mata dunia, lewat temuan-temuannya.

Apta dan Fajar akan berlaga mewakili Indonesia dalam ajang I-SWEEEP 2017 di Houston, Texas, USA, lewat temuan "Smart Scale", yaitu timbangan 'pintar' yang dapat mengidentifikasi status gizi seseorang, sekaligus otomatis mengirim data gizi dan anjuran asupan gizi melalui pesan singkat.

Adnya, akan berlaga dalam ajang APCYS 2017, di Pokhara, Nepal, dengan temuan Uji Perbandingan Efektivitas Daun dan Bunga Kamboja sebagai Biolarvasida untuk Larva Nyamuk, yang sudah barang tentu temuannya dapat menggantikan "ABATE" konvensional yang sarat akan kandungan kimia.

Vira dan Surya akan bertanding di I-RYSCE (International Royal Military Collage Young Scientist Conference and Exhibition) Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka meneliti tentang pemetaan tingkat polusi cahaya di Kota Denpasar dengan menggunakan Kamera DSLR. Selama ini masyarakat hanya mengenal pencemaran dengan medium air, udara, suara, dan tanah saja.

Padahal ada pula pencemaran yang disebabkan oleh cahaya yang "terlalu banyak" di langit malam. Polusi cahaya juga dapat menyebabkan efek negatif bagi kehidupan. Untuk itu, Vira dan Surya menemukan "metode baru" untuk mengukur tingkat polusi cahaya dengan memanfaatkan kemampuan Kamera DSLR, kemudian mengimplementasikannya dengan melakukan pemetaan tingkat polusi cahaya di Kota Denpasar.

Mala dan Dyo akan berlaga dalam ajang ASPC 2017 di Bangkok, Thailand dengan temuan Sintesa Material dari Ampas Tahu sebagai Substitusi Styrofoam Kemasan, dimana temuannya akan memberdayakan kembali limbah ampas tahu hasil produksi tahu rumahan menjadi styrofoam yang aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Namun, sangat disayangkan, mimpi mereka terancam pupus sebab terkendala biaya pemberangkatan keluar negeri. Perlu diketahui bahwa, untuk pemberangkatan Apta dan Fajar menuju Texas, USA, memerlukan biaya sebesar Rp. 105.000.000,00 untuk pemberangkatan dan biaya hidup di USA. Pemberangkatan Adnya menuju Pokhara, Nepal memerlukan biaya sebesar Rp. 35.550.000,00 juta untuk pembinaan mendalam oleh pakar terkait, pemberangkatan, dan biaya hidup di Nepal.

Pemberangkatan Vira dan Surya menuju Kuala Lumpur, Malaysia memerlukan biaya sebesar Rp. 50.121.500,00 juta untuk pembinaan mendalam dengan pakar terkait, pemberangkatan, dan biaya hidup di Malaysia. Sementara pemberangkatan Mala dan Dyo menuju Bangkok, Thailand memerlukan biaya sebesar Rp. 18.350.000,00 juta untuk biaya pemberangkatan dan transportasi selama lomba (karena biaya hidup sudah ditanggung penyelenggara). Alhasil, mereka memerlukan total biaya sebesar Rp. 209.021.500 dan tentu itu bukan dana yang sedikit.

Melihat semangat dan perjuangan mereka, kami berinisiatif untuk menggalang dukungan dari kawan-kawan dan publik melalui campaign bertajuk Merajut Mimpi untuk Banggakan Indonesia.

Pihak sekolah tak mampu berbuat banyak, sebab perubahan status pengelolaan SMA/SMK dari kabupaten/kota ke provinsi menjadikan sekolah memiliki dana yang minim (mengingat tidak diperkanankan untuk memungut SPP. Padahal selama ini dari dana SPP tersebut digunakan untuk pembinaan dan biaya pemberangkatan siswa untuk meraih prestasi).

Sementara pemerintah, ya jangan ditanya lagi. Pihak sekolah sudah sempat mengajukan ke Pemerintah Provinsi. "Hmm,," hanya begitu tanggapan pemerintah. Jelas, bagi sekumpulan anak remaja mendengar tanggapan itu, rasanya sangat menyayat hati. Sejak saat itu, mereka memutuskan untuk tidak berharap lagi kepada pemerintah.

Untuk itu, mereka sangat mengharapkan bantuan dari masyarakat dalam menyelesaikan masalah mereka. Tak ada lagi, tempat untuk menaruh harapan. Satu-satunya, hanya bantuan dari masyarakat yang dapat memberi asa bagi mereka. Mewujudkan mimpi, untuk banggakan Indonesia tercinta.

Kami berharap kawan-kawan berkenan mendukung tercapainya mimpi ilmuan muda Indonesia untuk mengharmumkan nama bangsa. Setiap donasi yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung penelitian dan kompetisi yang diikuti oleh ilmuan muda ini.

 

 

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini.

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6.

Artikel Selanjutnya
Hampir 5 Ribu Ruang Kelas Sekolah di NTT Rusak Berat
Artikel Selanjutnya
Siswa Penerima KIP Bengkulu Dilarang Beli Pulsa