Sukses

Kisah Seru, Perjalanan Menjadi Guru di Yeongwol, Korea

Liputan6.com, Jakarta Berawal dari pesan sederhana sang Ayah yang tak pernah mendikteku untuk jadi siapa dan apa, namun hanya sebatas jadilah yang terbaik, jika jadi petani, jadilah petani terbaik, jika jadi siswa maka jadilah yang terbaik, karena terbaik bukan berarti mengalahkan orang lain, terbaik adalah mengalahkan diri sendiri, dari rasa malas, keraguan dan ketakutan serta kasih sayang tulus dari seorang ibu, aku terus merajut, menyusun pazel-pazel kehidupan yang masih berserakan.

Meski aku baru sedikit paham dengan pesan itu, setidaknya aku telah berhasil menjadi wisudawan terbaik, namun itu belum membuatku puas. Aku masih penasaran dengan petuah itu sehingga perjalanan besarku berikutnya pun berlanjut. Aku tahu ini tak mudah dan bahkan perlu banyak pengorbanan, Tapi, kalau aku tak melakukannya, maka akan jadi sulit selamanya.

Coba bayangkan how terrible this is, kamu pertama kali ke luar negeri, tidak ada pengantar dan Penjemput di Bandara, bahkan nanti setelah sampai di Incheon International Airport, Negeri Gingseng, Korea pun. Belum lagi ketika keluar dari Bandara, kamu harus mencari alamat sendiri di Seoul yang begitu luas, ditambah lagi, bahasa yang mereka gunakan bukan inggris, agak susah tanya-tanya, jika toh bisa bahasa Korea, paling cuma, annyeong haseyo, kamsahamnida, mannaseo bangapseumnida. Aku ketawa sendiri dalam hati seperti masuk dalam planet lain.

Foto: Setyo

Tapi kalau aku tidak nekat seperti ini, sulit akan tetap jadi sulit selamanya. Untuk itu, semenjak awal di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, saya SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengan para bule. Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta menjadi sasaran empuk “memburu” para bule. Pertama kali aku memasuki terminal 2 lewat Gate 3, aku melihat sosok jangkung dengan rambut berwarna putih, orangnya paruh baya. Aku bercakap-cakap dengan dia sembari menunggu keberangkatan.

Pesawat Korean Air berangkat pukul 22.05 WIB, sedang saat itu masih pukul 13.00 WIB. Lah aku tambah binggung baterai Handphone (HP) sudah habis, untungnya ada tempat nge-cas, kurang beruntungnya, tempatnya antri. Aku menunggulah terus karena memang itu penting banget karena peta Subway hanya ada di HP, belum sempat nge-print. Jam 15.23 WIB aku baru mendapat tempat nge-cas. Sembari menunggu baterai penuh, aku nyalakan HP untuk browsing.

Usut di usut, kisaran jam 20.00 WIB aku sudah Check in. Petugas memeriksa semua kelengkapan dokumen termasuk dalam rangka apa ke Korea. Sampai pada waktu keberangkatan, aku bergegas memasuki pesawat. Nah, di situ aku sudah merasakan aura Korea di dalam Korean Air itu.

Sebenarnya ngeri juga sih perjalanan pakai pesawat 7 jam, apalagi ketika pesawat berguncang keras, jadi ingat tragedi pesawat yang sering jatuh akhir-akhir ini.

Berbeda sekali dengan penerbangan domestik, penerbangan internasional terasa nyaman, meskipun kelas ekonomi, dan banyak fasilitasnya, dari mulai dinner, movie, earphone, sandal hingga selimut. Pramugari korea dengan perawakan tinggi putih acapkali mondar-mandir, ke belakang-depan. Saya berfikir, ini nyatakah? Aku ke Korea???? Ngajar bahasa inggris??? Yah wajarlah, selama ini hanya bisa bertahun-tahun menyimpan imajinasi itu dalam kotak ingatan dalam-dalam.

Aku terasa tertidur sejenak saat itu, namun mentari pagi dari bilik kanan pesawat telah menyapa. Sejam lagi pesawat akan landing.

Setiba di Bandara Incheon, aku sedikit bingung untuk naik subway, apalagi memakai T-Money, yang mana belum pernah aku dapat di negaraku.

Untungnnya, berbekal peta dan sedikit bertanya-tanya, aku dapat menemukan jalur subway ke Hongik University, Seoul. Di sisi lain, aku bertemu dengan Steven, dari Kanada yang sedang berlibur selama 4 hari di Korea. Syukur, dia sangat baik dan yang mengajarkanku menggunakan transportasi subway.

Bukan tanpa masalah, sesaat setelah naik subway kurang lebih sejam, aku turun dan ingin keluar melalui pintu exit 2. Aku kesulitan menemukannya, bahkan aku bertanya pada Petugas juga tidak tahu, ya masalahnya mereka tidak bisa bahasa inggris… , betapa bingungnya aku.

Beberapa waktu kemudian, aku keluar dari pintu nomor 6. Di situ aku bertemu dengan seorang gadis, ia yang menunjukan alamat Better World, kantor organisasi Penyelenggara kegiatan ini, tempat tujuan di Seoul. Aku berjalan sendiri seolah berada di planet lain kurang lebih 15 menit. Di tengah perjalanan, aku menikmati pemandangan kota, gedung gedung pencakar langit, dan herannya arus lalu lintas sangat nyaman, tidak macet. Kotanya juga sangat bersih.

Di Better world, lantai 3 sebuah gedung yang dekat dengan sekolah, aku tidak tahu apa nama gedung itu karena tidak dapat membaca tulisan korea. Di dalam, aku bertemu dengan Mr. Sean, yang memberikanku training untuk kegiatan 3 bulan ke depan.

Projekku ternyata agak jauh dari Seoul, yaitu Jecheon, Yeong-Wol, sehingga aku kembali seorang diri ke jalur subway, Nah, subway tidak ada yang sampai Jecheon sehingga aku harus turun di stasiun terdekat, Gangbyeon.

Lagi-lagi Tuhan memberiku pertolongan, aku bertemu dengan seorang cewek dari Korea, yang bisa berbahasa inggris, ia yang menunjukanku jalur ke stasiun tujuan. Ehm, di dalam subway, aku juga bertemu perempuan dari Thailand, katanya dia hanya berlibur 4 hari juga. Ia sangat ramah dan mencairkan suasana saat ketegangan di subway karena hanya terdiam saja. Sayangnya, dia turun lebih awal.

Setelah itu, aku harus naik bus dengan harga 10.800 Won, wah mahal juga ya, gumamku. Memang perjalanannya jauh hingga menghabiskan 2 jam ternyata.

Sesaat tiba dari stasiun Jecheon, aku masuk ke ruang tunggu karena di situ akan di jemput oleh Host-nya. Tidak terlalu lama, ada 4 orang yang menemui dan bertanya tentang Better World, nah ini Host-nya. Aku sangat senang karena mereka sangat ramah dan bahkan seperti keluarga sendiri. Mr Lee atau lebih akrab dan sopan dipanggil dengan Mok Sa Nim adalah tuan rumah itu, Sedang Sung Ming dari Jerman dan Ayako dari Jepang adalah temanku di projek. Dan satu lagi, aku lupa namanya, istri Mr. Lee, yang dipanggil dengan Sa Mo Nim.

Di tengah perjalanan aku di manjakan dengan pemandangan yang sangat indah, sebuah perbukitan yang membentang sangat elok. Meski pepohonannya kebanyakan belum ada daunnya, maklum awal spring.

Foto: Setyo

Sesampai di tempat, ada banyak anak-anak yang menyapa, bukan hanya anak SMA, namun juga Elementary, betapa lucu-lucunya anak-anak ini. Mereka juga sangat ramah. Sesampai di sana aku langsung diajak main, meskipun yang elementary gak ngerti bahasa inggris.

Ada satu anak yang selalu minta gendong, wah badannya gemuk lagi. tapi sangat seru main bersama mereka hingga waktu pukul 5 sore dan waktunya dinner bersama. “Pamogo” seru tukang masak di dapur.

Nah, ini masalah lagi, makannya pakai sumpit, dan aku belum bisa. Anak-anak korea ada yang memperhatikanku memakai sumpit yang sangat awam ini. Jangankan nasi, megang sayur pakai sumpit aja tidak bisa. Untungnya disediakan sendok garpu juga.

Bersama teman-teman semua aku mengambil lauk. Ada sayur Kimchi terus sayur daun ijo yang aku lupa namanya, sungguh rasanya sangat aneh dan ikan kecil-kecil seperti udang rebon. Wah, lidahku belum terbiasa kayaknya, rasanya aneh semua, sayurnya sangat masam, aku sedikit memaksakan menghabiskan meskipun sayurnya membuatku sedikit mual.

Seusai kegiatan hari itu, aku termenung sendiri, teringat tentang petuah kedua orang tua pada awal sebelum aku berangkat itu. Aku terfikir bahwa mereka lah yang sejatinya menjadi orang tua sukses, karena dari rahim seorang ibu yang tak pernah mengenyam pendidikan, bahkan buta huruf sampai sekarang dan dari seorang ayah yang hanya protolan sekolah SD, dapat melahirkan seorang sarjana terbaik, dan kini dapat berdiri di antara bangsa-bangsa.

Penulis:

Setyo Pamuji

Dusun Dawung RT/RW 007/009 Grabagan Tuban Jawa Timur

*Penulis adalah Perwakilan Dejavato Foundation Indonesia untuk mengajar bahasa Inggris di Korea Selatan. Awardee Bidikmisi (2010-2014), Teaching Clinic Global English (2015), China Scholarship Council (2016-2020) untuk Master of Business Administration.

Yuk tonton video menarik berikut ini:

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

Artikel Selanjutnya
Ini Wajah Tegang Lee Kwang Soo Saat Naik Gondola di Gunung Kidul
Artikel Selanjutnya
Rating Tinggi, Drama Korea Ini Dibuat Ulang di Eropa