Sukses

KOLOM BAHASA: Ndeso yang Mendadak Tenar

Liputan6.com, Jakarta Ndeso dan Kaesang Pangarep mendadak tenar di jagat maya. Pemicunya adalah vlog (video blog) yang diunggah putra bungsu Presiden Jokowi itu di akun YouTube miliknya. Seorang pria atas nama Muhammad Hidayat Simanjuntak menuding, Kaesang mengucapkan ujaran kebencian dalam vlog yang diberi judul #BapakMintaProyek itu. Benarkah demikian?

Di bagian awal videonya, Kaesang seolah-olah sedang menelepon sang ayah yang merupakan Presiden Indonesia. Dia meminta jatah proyek triliunan yang ada di pemerintahan. Penyebabnya, Kaesang bosan karena uang dari YouTube nominalnya kecil. Di bagian ini, ia menyindir perilaku anak-anak pejabat yang memanfaatkan jabatan orangtua mereka untuk keuntungan pribadi. Istilah ndeso pun muncul di bagian ini. Berikut kutipannya.

Emangnya masih zaman minta proyek sama orangtua di pemerintahan? Dasar ndeso. Ini kayaknya harus disensor dikit ya. Dasar nd***.”

Di bagian selanjutnya, Kaesang berkali-kali mengucapkan kata ndeso yang disensor dengan bunyi “biiip...”

Hal lain yang dikomentari Kaesang adalah tentang video arak-arakan bocah-bocah yang meneriakkan kata-kata “bunuh si Ahok”. Berikut cuplikannya.

Di sini aku bukannya membela Pak Ahok, di sini aku mempertanyakan kenapa anak seumur mereka bisa begitu. Kenapa anak seumur mereka sudah belajar untuk menyebarkan kebencian? Apaan itu? Dasar Nd***. Ini ajaran siapa coba? Dasar Nd***

Pertama-tama, apakah makna ndeso? Apakah dengan Kaesang menyebut ndeso berarti menyebarkan kebencian dengan merendahkan orang-orang di desa?

Dalam sebuah percakapan atau tuturan, ada penutur = N (yang bertutur), dalam hal ini Kaesang dan petutur = T (yang diajak bertutur, lawan tutur), yaitu penonton video. Keduanya dapat disebut partisipan. Selain itu, ada pula topik yang dipercakapkan. Semua itu pada akhirnya membentuk konteks situasi. Konteks itu, verbal atau situasi, dapat mempengaruhi makna sebenarnya dari sebuah kata, frase, kalimat, atau ujaran. Makna yang berdasarkan konteks itu disebut makna kontekstual.

Menurut Richards, makna kontekstual adalah makna suatu butir leksikal (kata) atau butir gramatikal (frase, kalimat) di dalam konteks.

Pertama, sebagai penutur, siapakah Kaesang? Sebelum berstatus anak Presiden ke-7 Indonesia, Kaesang Pangarep lahir dan tumbuh besar di lingkungan yang kental dengan budaya Jawa, Solo. Namun, sejak SMA, Kaesang sudah disekolahkan ke Singapura hingga ia menamatkan sekolah di Anglo-Chinese School.

Kedua, petutur atau mitra tutur video ini tidaklah terbatas, dari segala usia, suku, agama, dan golongan.

Ketiga, adalah konteks. Video ini dibuat Kaesang sebagai reaksi atas perilaku anak-anak muda yang tidak baik. Ia mencontohkan, anak pejabat yang minta proyek triliunan dari ayahnya, serta anak-anak kecil yang meneriakkan kalimat “bunuh si Ahok” saat berpawai. Perilaku ini yang disebutkan Kaesang sebagai ndeso.

Menurut budayawan Semarang, Djawahir Muhammad, istilah ndeso sama dengan istilah populer "norak". Jika untuk mencela, lebih tepat menggunakan istilah "norak".

Nah, penggunaan diksi ndeso untuk mencela itu secara tak sadar kemudian membuat makna ndeso bergeser menjadi negatif. "Yang ndeso selalu identik dengan tradisional, kota identik dengan modernitas. Dua kutub ini tak harus dihadap-hadapkan berlawanan," kata Djawahir kepada Liputan6.com, Kamis (6/7/2017).

Apabila ditelisik, kata ndeso memang identik dengan bahasa Jawa. Benarkah kata ndeso masuk klasifikasi bahasa Jawa?

Afiksasi nd di depan kata dasar dalam bahasa Jawa dapat diuraikan sebagai 'yang memiliki sifat atau ciri-ciri seperti kata dasarnya'. Maka, kata ndeso dapat dimaknai sebagai 'bersifat seperti kehidupan di desa'. Namun, di masa kini pengertian ini telah mengalami peyorasi, sehingga dimaknai sebagai 'tidak tahu sopan santun; tidak terdidik; kurang ajar, dan terbelakang atau tidak modern'.

1 dari 2 halaman

Makna Ndeso yang Berubah

Bahasa Jawa sendiri punya banyak tingkatan sesuai pemakai dan peruntukannya. Kata ndeso yang dipakai Kaesang berciri dialek Jawa yang memang biasa dipakai pada pergaulan umum masyarakat kini. Bahkan, kata ini sudah populer dipakai oleh komedian Tukul pada beberapa tahun lalu.

Kaesang juga berkali-kali mengucapkan kata ndeso yang bermakna ‘bersifat kedesaan’. Dalam hal ini, bukan semata Kaesang memisahkan dirinya di luar dari komunitas “desa” dan lebih condong ke “kota”.

Apabila ditelusuri akar budayanya, di kalangan petutur bahasa Jawa sendiri, kata ndeso dianggap sebagai kata yang lumrah sebagai bahan guyonan. Petutur dan penutur sendiri tak merasa sakit hati atau tersinggung umpamanya dikatai sebagai ndeso.

Pemakaian kata ndeso oleh Kaesang dapat kita anggap sebagai ekspresi dirinya dalam berbahasa. Fungsi bahasa adalah sebagai alat berpikir dan berekspresi, bukan saja sebagai alat komunikasi. Hal ini diungkapkan Dendy Sugono dalam buku Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar. Dalam hal bahasa sebagai alat untuk berekspresi, bahasa digunakan dalam menyatakan sesuatu. Konteks bahasa dengan lingkungan budayanya inilah yang acap kali tak dipahami penutur dari latar belakang budaya yang berbeda.

Ketimbang berfokus pada kata ndeso yang berkali-kali diucapkan Kaesang, lebih bijak kita melihat pesan sesungguhnya yang berusaha disampaikan anak muda ini. Kaesang tampaknya lebih ingin menyampaikan keresahannya karena melihat perilaku anak-anak muda zaman sekarang (anak pejabat dan anak-anak yang meneriakkan ujaran kebencian) yang justru tidak mencerminkan keindonesiaan sesungguhnya.

Dengan demikian, makna sebuah ujaran sangat tergantung pada konteks. Tuturan-tuturan baru dapat dimengerti hanya dalam kaitannya dengan kegiatan yang menjadi konteks dan tempat tuturan itu terjadi. Sesuai dengan pendapat Alwasilah (1993, Linguistik Suatu Pengantar) bahwa ujaran bersifat context dependent (tergantung konteks).

Artikel Selanjutnya
5 Aktor Ini Awalnya Dianggap Tak Cocok Perankan Tokoh Novel
Artikel Selanjutnya
Saksikan Dear Haters: Romantisnya Asmara, Rekayasa atau Bukan?