Sukses

KOLOM BAHASA: Kamus Bisa Meningkatkan Minat Literasi Anak

Liputan6.com, Jakarta - Anak mengenal bahasa dimulai saat dia menerima bahasa pertama di lingkungan rumah. Kenyataannya, bahasa Indonesia tidak selalu menjadi bahasa pertama untuk anak. Bahasa pertama anak pada umumnya adalah bahasa ibu mereka yang kebanyakan menggunakan bahasa daerah. 

Malone (2007) berpendapat, anak-anak yang berbahasa ibu yang berbeda dari bahasa nasional sering berada pada posisi yang tidak menguntungkan dalam sistem pendidikan.

Kita mengetahui, bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan di Indonesia sesuai ketetapan Undang-Undang No 24 Tahun 2009. Di sekolah, anak belajar menggunakan bahasa kedua, yakni bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, anak sebaiknya mempelajari bahasa Indonesia sejak dini agar saat di sekolah ia mengerti dan memahami bahan ajar dari guru.

Sayangnya, tingkat literasi anak Indonesia begitu rendah. Dr. Felicia Nuradi Utorodewo sebagai pembicara utama dalam Seminar Leksikografi Indonesia yang diadakan Badan Bahasa di Jakarta, 9-10 Agustus mengatakan, salah satu penyebab rendahnya literasi anak adalah ibu mereka tidak memahami apa yang dibaca. Faktanya, tidak semua orang tua dan peserta didik memahami literasi.

Saat berkunjung ke daerah, Dr. Felicia mendapati seorang ibu membaca sebuah informasi dengan mengeja beberapa kata dalam kalimat berbahasa Indonesia di sebuah selebaran. Namun, saat sang ibu ditanya apa informasi yang dibaca, ternyata ia tidak dapat memahami/mengerti. Hal ini berarti ibu ini mampu membaca, tapi tingkat literasi dan minat bacanya tetap rendah.

Padahal, kunci utama kemampuan literasi adalah membaca. Selain itu, kemampuan memahami bahasa lisan dan bahasa tulis dan pemaknaan atas hal yang dibaca pun turut ambil bagian. Tujuan literasi untuk anak/peserta didik sendiri ialah anak dapat “melek” dan dapat membaca, anak dapat memahami dan memaknai teks yang dibaca, bahkan anak dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat di sekelilingnya.

Dr. Felicia Nuradi Utorodewo yang memaparkan makalah berjudul “Kamus dan Pengembangan Kosakata Anak” dalam Seminar Leksikografi yang diadakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengatakan bahwa literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi bagaimana memaknai yang dibaca dan menjadi ahli dalam berbagai hal dengan membaca. Pendapat ini seperti dikutip dari laman Badan Bahasa.

1 dari 2 halaman

Pentingnya Kamus Bagi Anak

Untuk mengatasi hal itu, sebaiknya ibu memberi pendampingan belajar bahasa anak dengan memberinya kamus atau buku lain. Sehingga anak akan dapat belajar memahami dan memaknai bacaan. Dengan kamus pula, anak dapat mengenal dan memaknai kata, melihat ejaan yang baku, belajar menggunakan kata dalam kalimat, dan anak dapat membedakan makna suatu kata.

Kamus yang dapat diberikan untuk anak tentunya bukan Kamus Besar Bahasa Indonesia, karena kamus tersebut terlalu kaku dan formal. Ibu dapat memberikan kamus tematik bergambar yang menarik untuk sang buah hati.

Sayangnya, di Indonesia tidak banyak ditemui kamus untuk anak. Penerbit-penerbit di Indonesia tidak banyak menerbitkan kamus jenis ini. Hal ini berbeda jika kita melihat kamus-kamus jenis ini yang banyak variasinya di luar negeri.

Alternatif lain, ibu dapat membuat kamus atau berbagai media sendiri untuk anak belajar bahasa. Tentunya kamus atau media yang dibuat harus sesuai dengan tujuan penyusunan dan usia khalayak sasarannya, dalam hal ini untuk anak.

Kamus begitu berperan dalam literasi anak. Dengan kamus, anak mampu membaca sendiri dan minat mereka terhadap buku akan terangsang dan berkembang. Selain itu, anak dapat berminat dan memiliki kemampuan untuk membaca.

Sumber: Materi seminar Dr. Felicia Nuradi Utorodewo.

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

Artikel Selanjutnya
Yuk, Rangkul Kebaikan Demi Pendidikan Anak Indonesia!
Artikel Selanjutnya
5 Aplikasi Penerjemah Terbaik untuk Traveler