Sukses

3 Misteri Peninggalan Purbakala di Garut yang Bikin Penasaran

Liputan6.com, Jakarta Tanah Indonesia sudah didiami manusia sejak ribuan tahun lalu. Bahkan, bukti-bukti peninggalan purbakala yang ditemukan menunjukkan, Indonesia telah menjadi hunian bagi manusia purba.

Sebut saja Pithecantropus Erectus dan Homo Soloensis yang diduga hidup sebelum abad Masehi. Kerangka dan tulang-belulang manusia purba itu ditemukan di beberapa lokasi di Indonesia.

Selain itu, penemuan bangunan-bangunan dan benda-benda yang diduga berasal dari zaman purba juga kerap ditemukan. Walau begitu, beberapa diantaranya masih menjadi perdebatan dan misteri yang bikin penasaran.

Seperti di wilayah Garut, Jawa Barat yang disebut beberapa peneliti telah memiliki peradaban yang besar di masa lampau.

Berikut, beberapa misteri peninggalan purbakala di wilayah Garut yang masih menjadi misteri:

 

1 dari 4 halaman

1. Situs Purbakala Margalaksana

Baru-baru ini, tim arkeolog menyambangi situs purbakala atau peninggalan purbakala zaman megalitikum di Desa Margalaksana, Kecamatan Bungbulang, Garut. Situs ini disebut-sebut mirip dengan situs Gunung Padang di Cianjur.

Berdasarkan kajian awal tim Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) yang telah meneliti di kawasan itu, batuan bersusun tersebut diprediksi berusia 3.000 tahun sebelum Masehi (SM).

Kawasan situs itu juga diduga memiliki luas mencapai 24.000 hektare meliputi empat desa, termasuk wilayah Desa Margalaksana, Kecamatan Bungbulang dan beberapa desa di Kecamatan Mekarmukti.

Komplek Batu Raden biasa masyarakat setempat memanggil kawasan itu, berpotensi menjadi penemuan situs purbakala atau peninggalan megalitikum terbesar mengalahkan situs Gunung Padang yang memiliki luas bagian permukaan sekitar 900 meter persegi.

Batuan berbentuk balok di Margalaksana itu tersusun rapih menjorok ke dalam membentuk dinding. Ketinggian dinding sekitar 50 meter dengan panjang bentangan sekitar satu kilometer lebih, mulai Desa Margalaksana hingga perbatasan Desa Mekarmukti. Lokasi situs berada persis di sepanjang aliran sungai kecil yang terdapat di sana.

Selain bebatuan berbentuk balok, pancang, dan tiang berbagai ukuran, ditemukan pula batu bundar bersusun yang disebut batu susun. Kemudian batu berlapis atau bersisik karena bentuknya menyerupai sisik ikan yang dikenal sebagai batu belang oleh warga setempat. Batu tersebut memiliki ketinggian 70 meter hingga 90 meter.

Batu susun ditemukan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikawung dengan ketinggian dinding berkisar 50 meter hingga 70 meter, sedangkan batu pancang atau tiang ditemukan sedikitnya di 30 titik.

Fakta lain yang menguatkan kawasan Batu Raden merupakan situs budaya, ditemukannya dinding batu tulis dengan tulisan diduga berbahasa aksara Ibrani. Salah satu peninggalan purbakala di Kampung Cibiru Ranca Kawung, Desa/Kecamatan Mekarmukti.

Ada pula sejumlah bangunan makam tua misterius berukuran besar dan panjang di lokasi berbeda. Salah satunya makam sepanjang tujuh meter dengan lebar dua meter yang dikenal sebagai makam Raden Purba Kawasa di kawasan Leuweung Raden.

2 dari 4 halaman

2. Batu Berukir Gunung Bangkok

Awal Oktober 2017, sekolompok warga Desa Mekarluyu Kecamatan Sukawening, Garut hendak membuka akses wisata ke air terjun atau curug Gandasari. Namun, niat mereka tertunda setelah menemukan sejumlah batu berukir yang diduga pecahan candi kuno.

Temuan sekitar 30 bongkahan batu berukir itu mengagetkan warga dan relawan. Selama ini, warga tak pernah menemukan jenis bebatuan serupa selama menaiki gunung dan menuruni lembah Bangkok.

"Sebagian besar bercorak garis dan membentuk simbol-simbol yang tidak diketahui warga," kata Iyus Ismail, seorang tokoh masyarakat Desa Mekarluyu.

Jika melihat tekstur, bentuk, dan corak ukiran pada permukaan batu tersebut, diperkirakan bukan buatan alam, melainkan hasil bentukan manusia. Namun, ia enggan berspekulasi lebih jauh mengenai batu tersebut, sebelum ahli purbakala melakukan observasi lapangan.

Untuk mengamankan batu tersebut dari ancaman tangan jahil warga yang tidak bertanggung jawab, puluhan batu kemudian dikumpulkan di sebuah bangunan semipermanen yang dibuat warga. Warga juga melaporkan temuan yang diduga pecahan candi kuno itu ke bagian kepurbakalaan Dinas Pariwisata Garut.

3 dari 4 halaman

3. Piramida Sadahurip

Pada 2012, mencuat berita keberadaan sebuah piramida besar yang terletak di Gunung Sadahurip, Garut. Piramida Sadahurip itu disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia.

Waktu itu, pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi mencoba menelusuri keberadaan piramida yang menghebohkan itu. Setelah diteliti secara intensif dan uji karbon dating, dipastikan umur Piramida Sadahurip lebih tua dari Piramida Giza.

Selain itu, pengujian lebih lanjut dibutuhkan untuk membuktikan kebenaran dugaan tersebut. Yakni melalui pengujian ekskavasi atau penggalian sehingga bisa dibuktikan sejelas-jelasnya.

Namun, dugaan itu akhirnya dibantah oleh peneliti lain. Arkeolog Dr Bambang Sulistyanto menyatakan, dugaan piramida di Gunung Sadahurip Kabupaten Garut dari aspek arkeologi dianggap tidak masuk akal. Itu karena, Indonesia tidak mengenal kebudayaan piramida.

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Artikel Selanjutnya
7 Wisata Alam Eksotis yang Paling Instagenic di Makassar
Artikel Selanjutnya
Top 3: Ritual Seks Gunung Kemukus, Kisah Pilu Korban First Travel