Sukses

Camilan Serba Nanas Gambut, Produk Olahan Lahan Bekas Terbakar

Liputan6.com, Bengkalis - Pertamina (Persero) melalui program CSR mendorong masyarakat untuk mengalihfungsikan lahan pasca terbakar menjadi lahan produktif pertanian nanas gambut dan melakukan disversifikasi produk olahan nanas. Lahan bekas kebakaran yang berlangsung sejak 2012 itu akhirnya mulai ditanami nanas di pertengahan 2015.

Awalnya hanya memakai lahan 1,5 hektar dan kini berkembang hingga 4,5 hektar yang sudah tertanam dan siap berbuah. Dari hasil panen yang mencapai 10 ribu buah per hektare itu menghasilkan nanas kualitas Grade A-B (85%) dan C (15%).

Nanas Grade A-B biasanya dijual ke pasar hingga penadah. Sementara Grade C yang tidak laku dipasaran diolah menjadi produk makanan, di antaranya keripik, sirup, dodol dan wajit.

Produk makanan tersebut dijual seharga Rp 5 ribu - Rp 10 ribu per bungkus. Sayangnya, karena kemasan yang masih sangat biasa, mereka hanya menjual di pasar lokal dan warung terdekat.

"Kami masih terkendala packaging, sehingga kami belum berani menjual ke pasar besar. Rasa produk makanan yang kami olah bisa bersaing, hanya saja kami masih terkendala dengan kemasan yang kurang menarik," kata Samsul, Ketua Kelompok Tani Tunas Makmur, saat ditemui di Bengkalis, Selasa (17/10).

Manager Production RU II Pertamina Sei Pakning Nirwansyah mengatakan bahwa Pertamina akan mencoba mengurus kendala tersebut agar kelompok Tani Tunas Makmur bisa mandiri.

"Sambil jalan, kita akan mengurus kelompok ini agar punya lembaga sehingga bisa kami lepas," kata Nirwansyah.

Program ini rencananya akan selesai pada 2020. Setelah itu Pertamina punya program lain untuk masyarakat di sekitar kilang Sei Panking.

(Ul)

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

Artikel Selanjutnya
Tanggapan BPOM Soal Bihun yang Terbakar Menyala
Artikel Selanjutnya
BPOM: Kerupuk Memang Pasti Terbakar Jika Disulut Api