Sukses

Tak Punya Uang Makan, Nenek Ini Minum Rebusan Batu Selama Setahun

Liputan6.com, Jakarta - Himpitan ekonomi atau kemiskinan mampu memunculkan kejadian-kejadian yang sulit dipercaya. Seperti seorang nenek 60 tahun bernama Niarti di Pontianak, Kalimantan Barat. Dia terpaksa meminum rebusan batu karena tak punya uang untuk beli makan.

Bahkan, kegiatan meminum rebusan batu itu sudah berlangsung selama satu tahun. Niarti menyebut, dia hidup sebatang kara dan sudah menderita sakit selama 10 tahun terakhir.

Saat dikunjungi, kondisi Niarti tampak lemas. Kondisi rumahnya pun sangat memprihatinkan. Pengap dan banyak batu bekas rebusan berserakan di dalam rumah tersebut.

Ketua RT 01/RW 14, Agus Yadi mengatakan, sejak diketahui nenek itu menderita sakit, warga mengusulkan kepada pemerintah agar Niarti mendapatkan bantuan perbaikan rumah.

"Kami sudah mengusulkan agar nenek Niarti ini mendapat bantuan, baik di tingkat kelurahan dan kecamatan, tetapi hingga kini belum juga mendapat bantuan," ia membeberkan.

Sementara itu, Ketua Kadin Kota Pontianak, Herry Fadillah mengatakan, begitu mengetahui ada kabar warga hidup dengan hanya meminum air rebusan batu, ia segera membawa nenek tersebut ke rumah sakit.

"Nenek Niarti, langsung kami bawa ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapat pertolongan. Apalagi, nenek itu sudah mengonsumsi air rebusan batu selama satu tahun," katanya.

Dia menambahkan, akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk menentukan langkah terbaik demi kelangsungan hidup nenek Niarti yang selama ini hidup dalam kemiskinan. Saat ini, nenek Niarti dirawat di rumah sakit terbaik di Kota Pontianak.

"Kami dari Kadin Kota Pontianak nantinya juga berencana memperbaiki rumah nenek Niarti agar layak ditempati," katanya.

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Nenek Usia 116 Tahun Masih Bugar, Resepnya Kopi Hitam Tanpa Gula?
Artikel Selanjutnya
Mencekoki Jamu Tertua di Yogyakarta