Sukses

KOLOM BAHASA: Bahasa Indonesia Masih Diremehkan di Negeri Sendiri

Liputan6.com, Jakarta - Penggunaan istilah asing, dalam hal ini bahasa Inggris, bukanlah barang baru dalam bahasa kita. Kalau dulu kita masih mengenal Mal Pondok Indah sebagai pusat perbelanjaan elite, belakangan kita disuguhi nama-nama yang sungguh "menginternasional". Sebut saja Senayan City, Pejaten Village, Thamrin City, sampai Grand Indonesia. Ini masih ditambah dengan Joko Tailor, DC Cellular, atau Audrey Kids and Baby Shop.

Orang Indonesia tidak percaya diri berbahasa Indonesia? Benarkah demikian? Engelbertus Wendratama, dosen UGM, menyebut hal tersebut sebagai suatu "penyakit" tidak percaya diri terhadap bahasa Indonesia. 

“Kita hanya tidak percaya diri dengan bahasa Indonesia,” kata dosen Jurnalisme Online Ilmu Komunikasi UGM ini di bukunya yang berjudul Jurnalisme Online.

Dalam sebuah bincang ilmiah bertema "Pengayaan Daya Ungkap Bahasa Indonesia: Sumbangan Bahasa Daerah dan Peran Media Massa" di Universitas Indonesia pada Senin, 20 November 2017, Kepala Laboratorium Leksikologi dan Leksikografi Departemen Linguistik UI, Totok Suhardijanto, mengamini hal tersebut.

Bagi dia, kini masyarakat Indonesia cenderung tidak “yakin” dengan bahasa Indonesia dan memilih bahasa asing sebagai daya ungkap istilah tertentu. Beberapa fakta dipaparkan dalam bincang ilmiah ini, antara lain soal KBBI edisi keempat.

Frans Asisi Datang, salah seorang pembicara yang juga dosen UI, mengatakan bahwa bahasa daerah ternyata hanya berkontribusi lebih kurang 3,99 persen dalam kosakata bahasa Indonesia atau hanya ada sekitar 3.592 entri dalam kosakata di KBBI.

Dosen linguistik itu mengatakan, daya ungkap dalam bahasa Indonesia belumlah lengkap. Apakah ini sebab masyarakat tidak percaya diri berbahasa Indonesia dan lebih memilih bahasa asing dalam berbahasa?

Nyatanya bahasa daerah dapat memperkaya dan membantu kosakata bahasa Indonesia jika tidak ada padanan bahasa asing untuk mengungkap istilah.

“Kita dapat mengambil kata dalam bahasa daerah agar lebih spesifik mengungkap sesuatu. Kalau daya ungkap dalam bahasa Indonesia tidak ada, bisa ambil dari bahasa daerah,” kata dosen yang tertarik dengan struktur bahasa Manggarai dan topografi bahasa Flores ini.

Frans memaparkan, penelitian khusus demi mencari apa yang dapat disumbangkan bahasa daerah untuk memperkaya kosakata bahasa Indonesia dapat dilakukan. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lintas bidang untuk mengetahui sejumlah kosakata atau istilah asing yang dapat dicari padanannya dalam bahasa daerah jika dalam bahasa Indonesia tidak tersedia.

Dari penelitian-penelitian bahasa daerah yang dilakukan itu, niscaya kita akan menemukan kata/istilah baru yang dapat mengungkap bahasa/istilah asing yang sulit dipadankan ke bahasa Indonesia. Upaya memopulerkan pun menjadi langkah selanjutnya.

Namun kini, kita menemukan upaya pemadanan lebih sering mengambil dari bahasa Inggris yang kemudian disesuaikan dengan pelafalan orang Indonesia, alih-alih mencari kosakata dari bahasa daerah. Bukti paling nyata adalah kata mangkus dan sangkil yang tidak laku. 

Mangkus berarti 'berhasil guna' dan sangkil berarti 'berdaya guna' dalam bahasa Minang. Namun, karena orang Indonesia sulit mengingatnya, maka kata effective dan efficient diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi efektif dan efisien.

1 dari 2 halaman

Peran Media Massa

Media massa dapat menjadi fasilitator dalam usaha memopulerkan bahasa daerah yang telah diserap bahasa Indonesia. 

Misalnya, media massa bisa menjadi pencetus dalam memopulerkan kata-kata baru. Tak jarang, kata-kata baru justru tercetus dan ditemukan saat aktivitas sehari-hari di kantor. “Di situ ada kreativitas dan kebebasan, sehingga lahirlah kata-kata ‘baru’," ungkap Uu Suhardi, Redaktur Bahasa Tempo, pada acara yang sama.

Kata-kata dari redaksi Tempo kemudian keluar sebagai kosakata baru bahasa Indonesia dan masuk ke dalam KBBI. Contohnya, Tempo memopulerkan kata “santai” sebagai padanan relax. Kata ini diambil dari bahasa Komering (Sumatera Selatan) oleh Bur Suanto, wakil pemimpin redaksi pertama Tempo.

Pada zaman dulu, redaktur Tempo sering pula kesulitan mencari kata yang tepat untuk mengungkap sesuatu. Ada upaya menggunakan bahasa daerah untuk mengungkap istilah tertentu. Semisal, pemakaian kata "tumben" yang berarti 'tidak biasa' oleh wartawan Tempo, Harun Musawa, yang terlebih dahulu bertanya pada pada Redaktur Senior Tempo, Putu Setia.

Namun, penggunaan istilah baru itu tidak dapat langsung dipopulerkan di media massa. Awak redaksi perlu mendiskusikan dulu peruntukannya perihal tepat tidaknya penggunaan tersebut. Uu Suhardi mengatakan, jika penting, bahasa daerah dipakai dalam konsep tertentu di media massa.

Penggunaan kata baru di media massa juga tidak dapat sembarangan. Saat kantor Tempo masih di Kuningan, rutin diadakan evaluasi setiap pekan. Dari evaluasi, semua jadi tahu pula penulisan kata yang benar atau arti sebenarnya suatu kata.

“Tentu saja kita tak bisa semau gue dalam memilih kata baru. Tidak bisa sekonyong-konyong,” ungkap Uu.

Sumbangan bahasa daerah untuk bahasa Indonesia begitu penting karena ilmu pengetahuan dan kebudayaan berasal dari daerah. Ini penting untuk memperkuat bahasa Indonesia. Bahasa daerah bisa dipakai untuk memperkaya kamus kita. Sebab, setiap bahasa daerah kaya akan pengungkapan bahasa.

Upaya mengenalkan kata atau istilah baru dapat menambah khazanah bahasa Indonesia. Hal ini pun dapat membuat masyarakat lebih percaya diri dan yakin dalam berbahasa Indonesia.

Artikel Selanjutnya
Tere Liye dan Profesi Penulis yang Masih Dipandang Sebelah Mata
Artikel Selanjutnya
Banyak Jodoh dengan Bule, Wanita Thailand Harus Les Bahasa