Sukses

KOLOM BAHASA: Bahasa Kreol Tugu, Punah atau Berubah?

Liputan6.com, Jakarta Bahasa Kreol Tugu merupakan contoh menarik tentang kasus kepunahan bahasa, utamanya terkait kebudayaan yang melekat padanya. Bahasa Kreol Portugis Tugu pernah digunakan sebagai bahasa pergaulan di Kampung Tugu, Kelurahan Semper, Jakarta Utara, selama 3,5 abad (Suratminto, dkk: 2016). Namun kini, bahasa Kreol tidak lagi berfungsi sebagai alat komunikasi.

Dalam bukunya berjudul L’alineation Linguistique (1976), Henri Gobard mengatakan bahwa komunikasi bukanlah satu-satunya fungsi suatu bahasa. Gobard membagi fungsi bahasa menjadi empat. Pertama, vernacular, bahasa sebagai alat komunikasi dalam satu kelompok. Misalnya kelompok etnis Jawa, Sunda, dan Bugis dengan bahasanya masing-masing.

Bahasa juga berperan sebagai alat komunikasi dalam bidang administrasi, hukum, politik, atau komunikasi antarkelompok yang berbeda bahasa. Misalnya antarkelompok etnis, seperti Jawa dengan Minang atau dengan etnis lain. Fungsi kedua ini disebut vehicular.

Peran berikutnya adalah bahasa sebagai fungsi referensi kultural, yakni referensi pada kebudayaan suatu kelompok masyarakat atau kelompok etnis. Misalnya sebagai bahasa dalam kehidupan sosial atau bahasa upacara tradisional.

Terakhir, fungsi mitis atau religius, yakni bahasa yang digunakan dalam ranah agama dan kebudayaan, misalnya dalam upacara keagamaan, mitologi, atau penyebaran agama.

Sementara itu, menurut Kridalaksana (2008) dalam Kamus Linguistik, makna dari bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.

Mengacu pada pengertian tersebut, terdapat tiga kata kunci dalam mendefinisikan fungsi bahasa, yaitu bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.

Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa tak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi dalam arti sederhana, tapi juga sebagai alat perkembangan kebudayaan, alat pewarisan kebudayaan, dan cermin adat istiadat. Hal itulah yang terjadi di Kampung Tugu yang merupakan kawasan historis.

Menurut catatan sejarah, terdapat fakta bahwa masyarakat di Kampung Tugu memiliki budaya yang merupakan warisan masyarakat Kreol Portugis sejak abad 17. 

Prof Benny H Hoed ketika berkunjung ke Kampung Tugu, September 2014. (Dok pribadi Febri Taufiqurrahman)

Pada September 2014, Prof Emeritus Dr Benny H Hoed ketika berkunjung ke Kampung Tugu mengatakan bahwa bahasa kreol adalah bahasa, bukan sesuatu yang rendah. Sebagai suatu bahasa, bahasa Kreol Portugis Tugu merupakan salah satu bagian fakta sejarah penggunaan bahasa yang pernah eksis di Nusantara.

Pemaknaan identitas mereka sebagai masyarakat keturunan Portugis Tugu tidak terlihat lagi dari bahasa Kreol Portugis yang mereka gunakan, melainkan terwujud dalam identitas budaya.

 

1 dari 3 halaman

Terdokumentasi dalam Referensi Kultural

Saat ini, bahasa Kreol Portugis Tugu tidak lagi berfungsi sebagai alat komunikasi. Meskipun demikian, beberapa kosakatanya telah terdokumentasi dan tersimpan dalam referensi kultural dan budaya masyarakat di Kampung Tugu. Wujud pemertahanan budaya masyarakat keturunan Portugis di Kampung Tugu yang terlihat hingga saat ini terdapat pada grup musik Keroncong Tugu dan tradisi pesta mandi-mandi.

Keroncong Tugu adalah grup musik keroncong masyarakat keturunan Portugis di Kampung Tugu yang masih menyanyikan lagu-lagu yang liriknya menggunakan bahasa Kreol Portugis Tugu. Meskipun awalnya tidak mengerti secara detail makna lirik lagu-lagu tersebut, mereka dapat mengingat dan melafalkannya dengan baik.

Lagu-lagu tersebut di antaranya berjudul “Cafrinho”, “Gatu Matu”, dan “Yan Kagè Léti”. Lagu-lagu ini menggambarkan kehidupan masyarakat keturunan Portugis di Indonesia pada masa kolonial.

Salah satu lagunya yang berjudul “Yan Kagè Léti” bercerita tentang seorang pria yang bernama Yan, yang istrinya diculik oleh seorang prajurit Portugis. Akibatnya, dia mengalami disentri yang hebat. Akhirnya, si pencerita menasihati agar menggunakan três pedras quentes (yang terdapat dalam salah satu bait lirik lagu “Yan Kagè Léti”) yang bermakna tiga batu panas sebagai obat diare.

Mandi-mandi adalah salah satu tradisi pesta setiap minggu pertama di awal bulan Tahun Baru yang diselenggarakan masyarakat keturunan Portugis di Kampung Tugu secara turun-temurun yang masih dilestarikan hingga saat ini. Pesta mandi-mandi dilakukan anak-anak muda dan orang-orang tua keturunan Portugis di Kampung Tugu dengan cara menaburkan bedak satu sama lain sebagai penanda saling memaafkan.

2 dari 3 halaman

Bahasa Kreol Portugis Tugu Belum Punah

Presiden Pertama Timor Leste Xanana Gusmao dan Chairman of Asian Portuguese Community Joseph Santa Maria hadir dalam pesta mandi-mandi pada 8 Januari 2016. (Dok pribadi Febri Taufiqurrahman)

Pesta mandi-mandi sebelumnya dilakukan pada 8 Januari 2016 yang dihadiri oleh Xanana Gusmao (Presiden Pertama Timor Leste) dan Joseph Santa Maria (Chairman of Asian Portuguese Community). Kehadiran kedua tokoh tersebut menandakan bahwa tradisi pesta mandi-mandi merupakan alat untuk menguatkan identitas budaya masyarakat keturunan Portugis di Kampung Tugu yang saat ini diakui oleh Komunitas Keturunan Portugis di Asia.

Pesta mandi-mandi akan diselenggarakan lagi oleh masyarakat keturunan Portugis di Kampung Tugu pada 7 Januari 2018 di Halaman Gereja Tugu, Jakarta Utara.

Kosakata bahasa Kreol Portugis Tugu yang tersimpan dalam lirik lagu-lagu Keroncong Tugu dan perwujudannya dalam tradisi pesta mandi-mandi yang dilaksanakan secara terus-menerus akan semakin menguatkan identitas budaya mereka sebagai masyarakat keturunan Portugis di Kampung Tugu.

Hal tersebut menguatkan bahwa bahasa Kreol Portugis Tugu tidak sepenuhnya punah, melainkan telah beralih fungsi menjadi penguat identitas budaya.

 

Penulis:

Febri Taufiqurrahman (mahasiswa S3 Linguistik dan peneliti Laboratorium Leksikologi Leksikografi Departemen Linguistik FIB UI)

Artikel Selanjutnya
Riwayat Celengan di Dunia, Era Yunani Kuno hingga Majapahit
Artikel Selanjutnya
Jangan Lewatkan 5 Destinasi Wisata Sejarah Ini Saat Ada di Bogor