Sukses

Resah Konflik Antaretnis, Mahasiswa Bentuk Gerakan Antirasisme

Liputan6.com, Jakarta Pertikaian yang disebabkan oleh perbedaan ras, agama, dan suku kini semakin menjamur di masyarakat. Rasisme merupakan suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu, bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.

Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi, dan kekerasan rasial. Politikus sering menggunakan isu rasisme untuk memenangi suara. Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk sekitar tahun 1940, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial.

1 dari 3 halaman

Mahasiwa Membentuk GARIS Hadir Sebagai Gerakan Saling Menghargai

Hal ini tentu memprihatinkan jika dibiarkan begitu saja. Peduli dengan masalah ini, lima mahasiwa LSPR membentuk gerakan bernama GARIS (Gerakan Anti Rasisme), yang kini menjadi salah satu gerakan melawan rasisme di Indonesia. Karina, mahasiswa LSPR angkatan 2013 yang menjadi penggagas utama gerakan ini mengungkapkan bahwa rasisme terjadi karena kurangnya edukasi untuk saling menghargai perbedaan di tengah masyarakat.

"Pandangan aku sejauh ini, masyarakat kita tidak sadar ketika menghina suatu etnis, walau hanya dengan julukan mereka, misal si China, atau si hitam dan lain sebagainya, secara tidak langsung mereka pasti tersinggung meskipun di ungkapkan sebagai bahan bercanda," kata wanita 23 tahun ini.

2 dari 3 halaman

GARIS Diharapkan Bisa Mengembangkan Sikap Toleransi

Karina sebagai founder movement ini, memprakarsai GARIS sebagai bentuk pergerakan mereka melawan rasisme. GARIS pun punya cara tersendiri untuk mengampanyekan suara mereka. Usaha GARIS dapat dilihat pada akun instagram @garis_ri, di mana mereka menampilkan foto untuk mengedukasi masyarakat agar lebih peduli dengan masalah rasisme di Tanah Air. Selain itu, movement GARIS juga bertujuan menarik masyarakat untuk ikut serta dalam kampanye mereka dengan cara, mengadakan lomba, dan pameran foto melawan rasisme.

"Kita mencoba menjadi platform di tengah masyarakat. Mengedukasi lewat cara cara yang dekat dengan keseharian masyarakat pula. Agar mereka lebih peduli dengan hal yang tanpa mereka sadari, bahwa itu adalah tindakan rasisme. Dan itu sangat mengganggu korbannya secara tidak langsung," kata Karina.

Sejak berdiri pada tahun 2014, Karina berharap agar GARIS menjadi salah satu pioneer yang mampu menciptakan dan menumbuhkan rasa solidaritas antarbudaya tanpa memandang perbedaan.

 

Penulis:

Evandhani Nurnisa

London School of Public Relations Jakarta

 

 

Artikel Selanjutnya
Ini Penjelasan Resmi Facebook Terkait Demo FPI
Artikel Selanjutnya
Polisi Tunisia Menahan 328 Orang dalam Unjuk Rasa Akbar