Sukses

Tragedi Tanjakan Emen, Antara Fakta dan Mitos

Liputan6.com, Jakarta - Tragedi Tanjakan Emen menjadi kecelakaan maut yang terjadi di awal 2018. Puluhan korban meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut.

Jumlah korban meninggal mencapai 26 orang yang merupakan penumpang bus asal Ciputat, Tangerang Selatan, itu.  Sementara satu korban meninggal lain diduga merupakan pengendara motor.

Menurut seorang saksi selamat, Neneng Yunengsih, rombongan ingin berwisata ke Lembang dan berangkat pukul 06.30 WIB pagi.  Namun nahas, keceriaan para wisatawan ini harus berakhir karena tragedi Tanjakan Emen itu. 

Ada dugaan bus tersebut mengalami rem blong saat berada di turunan. Polisi menyebut bus sempat berjalan tak terkendali. Sewaktu melintas jalan yang menurun dan berkelok berjalan hingga menabrak sepeda motor.

Dugaan rem blong sebagai penyebab tragedi Tanjakan Emen itu diperkuat karena kondisi cuaca dalam kondisi bagus. 

1 dari 2 halaman

Tanjakan Emen Angker?

Tanjakan Emen, Ciater, Subang, memang dikenal sering terjadi kecelakaan. Jalannya yang menanjak dan berkelok membuatnya terkenal sebagai jalur rawan. Tanjakan ini juga memiliki kemiringan dan tikungan-tikungan tajam. Selain itu, ada juga yang menghubungkan kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di sini dengan cerita mistis.

Dikutip Liputan6.com, berdasar laman Kotasubang, ada tiga mitos yang berkembang di masyarakat terkait Tanjakan Emen dan kecelakaan yang sering terjadi.

Pertama, terkait kecelakaan pada 1969. Saat itu, ada bus bernama Bus Bunga. Bus tersebut mogok ketika berada di lokasi, sang kernet yang bernama Emen berusaha mengganjal rodanya. Namun nahas, Emen meninggal karena tertabrak bus itu. Warga sekitar mengaku sering melihat penampakan sosok Emen di tanjakan itu.

Versi kedua terkait dengan peristiwa tabrak lari di sana. Emen adalah korbannya. Namun, mayat Emen bukannya dievakuasi, tapi malah disembunyikan dalam pepohonan di sekitar tanjakan tersebut. Arwah Emen pun dipercaya menuntut balas.

Sementara versi lainnya, Emen adalah sopir oplet Subang-Bandung. Pada 1964, oplet yang dikendarainya kecelakaan dan terbakar. Emen disebut tewas di lokasi dan semenjak itu semakin sering terjadi kecelakaan di tempat yang sama. Pengguna jalan, biasanya melempar koin, rokok atau menyalakan klakson untuk terhindar dari bahaya di tanjakan Emen.

 

Artikel Selanjutnya
Di Bawah Guyuran Hujan, Sandiaga Senam Pagi Bersama Pegawai
Artikel Selanjutnya
Kala Gempa Guncang Jakarta