Sukses

Menakar Kesiapan Indonesia Hadapi AEC 2015

Banyak yang menilai bahwa Indonesia belum siap dalam menghadapi Asean Economic Community (AEC) 2015. Sebab, daya saing baik produk maupun Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih kalah bersaing dengan produk impor lainnya. Dikhawatirkan, dengan dilaksanakannya AEC, maka akan mematikan produk-produk Indonesia.

Akan tetapi Pemerintah Indonesia memandang serius dalam menghadapi perdagangan bebas antar negara Asean tersebut. Salah satu terobosan yang dilakukan oleh pemerintah adalah membentuk komite khusus. Dalam pidatonya  di Acara Indonesian Young Leaders Forum HIPMI di Jakarta, Kamis (18/4) menyebutkan bahwa pemerintah akan buat komite khusus untuk persiapan menyambut AEC 2015.

Pada tanggal 7 Oktober 2003 diadakan sebuah pertemuan ASEAN yang kemudian melahirkanDeclaration of ASEAN Concord II. Dokumen yang juga dikenal dengan nama Bali Concord II itu berisi rencana pembentukan ASEAN Community pada tahun 2015. Pertemuan ini menghasilkan komitmen dari seluruh anggota ASEAN untuk mewujudkan ASEAN Community tahun 2015 yang terbangun atas tiga pilar utama.

Pilar pertama adalah ASEAN Political-Security Community. Konsep yang diajukan oleh Indonesia ini bertujuan untuk meningkatkan kerjasama politik dan keamanan antar negara anggota. Pilar kedua adalah ASEAN Economic Community. Pengusul utama dari ASEAN Economic Community adalah Singapura dan Thailand. Pilar ketiga adalah ASEAN Social dan Cultural Community.

Dari ketiga pilar itu, ASEAN Economic Community paling mengundang perhatian dan menjadi bahasan banyak pihak. Hal itu lantaran ASEAN Economic Community akan membawa dampak besar tidak hanya dari sisi ekonomi, tapi juga dalam segala aspek kehidupan lain.

Tujuan utama ASEAN Economic Community ini adalah untuk mendorong efisiensi dan daya saing ekonomi kawasan ASEAN yang tercermin dalam empat hal: (1) ASEAN sebagai aliran bebas barang, bebas jasa, bebas investasi, bebas tenaga kerja terdidik, dan bebas modal (single market and production base); (2) ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing tinggi (a highly competitive economic region); (3) ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil menengah (a region of equitable economic development); dan (4) ASEAN sebagai kawasan terintegrasi (a region fully integrated in to the global economy).

Penyatuan ini akan menciptakan pasar yang mencakup wilayah seluas 4,47 juta km persegi dengan potensi lebih kurang sebesar 601 juta jiwa. Karena itu, sebagaimana dikatakan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa saat menghadiri pertemuan ASEAN Economic Community Council ke-9 di Brunei Darussalam, diperlukan keseriusan dan kesiapan Indonesia untuk menghadapi ASEAN Economic Community.  Kesiapan itu dibutuhkan agar Indonesia mampu menjadipemain utama, bukan hanya sekadar partisipan di dalam ASEAN Economic Community .

Jika kita cermati bersama, apabila dibandingkan dengan sembilan negara anggota ASEAN lain Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang dapat difungsikan menjadi modal berharga dalam menghadapi ASEAN Economic Community.

Pertama, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 237,6 juta jiwa atau bertambah 32,5 juta dari sensus penduduk tahun 2000.

Dari perspektif ekonomi fakta ini tentu menggambarkan bahwa Indonesia memeiliki ketersediaan sumber daya manusia sangat mencukupi untuk bersaing di kompetisi ekonomi regional. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 39 persen dari total penduduk ASEAN sebanyak 608 juta jiwa, Indonesia berpotensi memberikan pengaruh besar bagi terwujudnya ASEAN Economic Community.

 Kedua, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang cenderung lengkap ketimbang negara-negara ASEAN lain. Sejumlah komoditas utama di sektor pertanian dan pertambangan yang dikonsumsi negara-negara ASEAN berasal dari Indonesia.

Ketiga, Indonesia memiliki pengalaman penting dan berharga dalam menghadapi berbagai tantangan dan kendala, terutama saat diterpa krisis moneter pada kurun waktu 1997-1998. Pengalaman pahit ini telah menjadikan Indonesia jauh lebih matang dan siap dalam mengarungi lautan ekonomi global.

Keempat, keanggotaan Indonesia di berbagai forum kerjasama ekonomi global, terutama G20. G20 adalah forum resmi kerja sama ekonomi global pengganti Kelompok 8 (G8). Forum ini dibentuk untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dunia dengan memperkokoh fondasi keuangan internasional. G20 merupakan reperesentasi produk domestik bruto dua per tiga penduduk dunia. Indonesia merupakan satu-satunya negara ASEAN yang tergabung di dalam G20.

Kelima, pertumbumbuhan ekonomi Indonesia positif dalam beberapa tahun terakhir sebagai buah keberhasilan mengelola ekonomi makro. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat di tengah awan kelabu krisis global yang melanda langit sebagian besar negara di Eropa dan Amerika Serikat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan trend positif selalu berada di atas enam persen. Pada tahun 2012, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,3 persen. Pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah China. Tingkat konsumsi, investasi, dan ekspor akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara serentak.

Meskipun memiliki lima modal penting itu, Indonesia juga harus melakukan sejumlah perbaikan mendasar guna memantapkan diri dalam menghadapi ASEAN Economic Community. Ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi, seperti akselerasi kesiapan infrastruktur, konsentrasi industri manufaktur di pulau Jawa, struktur ketenagakerjaan yang masih didominasi lulusan sekolah menengah umum atau sederajat ke bawah, dan pengelolaan maritim.

Khusus mengenai masalah pengelolaan maritim harus mendapatkan perhatian ekstra. ASEAN Economic Community akan menumbuhkan kawasan Asia Tenggara menjadi pasar ekonomi yang sangat kompetitif dengan jaringan produksi dan distribusi yang saling terhubung. Karena itu, berbagai prioritas pembangunan industri perkapalan dan perbaikan fasilitas pelabuhan menjadi penting bagi setiap negara anggota ASEAN, terutama negara dengan luas laut sangat besar seperti Indonesia.*** 

Fathur Anas, Peneliti di Developing Countries Studies Center (DCSC) Jakarta adalah Pewarta warga

 Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke citizen6@liputan6.com

    Artikel Selanjutnya
    Harapan Dayang Belitong, di Ulang Tahun Jakarta yang ke-490
    Artikel Selanjutnya
    Profesor: Setop Bunuh Nyamuk, Mereka Saudara Kita