Pilgub Jateng di Mata Warga Tjepiring

on May 13, 2013 at 12:02 WIB

Citizen6, Kendal: Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2013 mulai mendapat sedikit atensi dari warga masyarakat. Atensi ini berasal dari sekelompok komunitas warga yang sedang menikmati nuansa sore di Cafe Si Tjepiring di Jalan Sriagung Cepiring, Kendal, Jawa Tengah (Jateng).

Sembari menghirup kopi hitam khas Sukorejo, kopi bangka, teh poci pagilaran, rokok, ditambah dengan hidangan pisang coklat, bakwan, tahu bakso, dan singkong goreng, fenomena Pilgub ini tak luput dari sorotan mereka. Namun kali ini, mereka tidak sedang menunjukkan keberpihakannya kepada salah satu kandidat, tapi murni menyuarakan suara warga.
 
Majemuknya para "Penongkrong" di Cafe Tjepiring, pada Sabtu 11 Mei 2013 sore itu, terlihat denganadanya pak Kayat pekerja bengkel yang bertubuh gemuk kekar seperti Mike Tyson, ada pak Dul dan mas Dede, bos konter telepon seluler, sekaligus aktivis olahraga bersepeda yang setia setiap sore menyempatkan diri ngopi dan ngeteh, serta Intan mahasiswi Akademi Kebidanan (Akbid) yang kelihatan pendiam namun sekali berbicara "menusuk" lawan bicaranya.

Banyak cerita unik dan menarik ketika satu-persatu mulai menyampaikan pendapatnya. Pak Kayat misalnya, dirinya senang ketika pemilu tiba. Apapun jenis pemilu itu, pasti ada calon yang membagikan kaos, ungkapnya. Baginya kaos pemilu adalah sarana eksistensi diri, bahwa dirinya diperhatikan oleh sang calon. Namun ketika sudah usang, kaos itu pun harus rela menjadi lap dan alas pengganti Keset kaki di depan pintu bengkelnya.

Lain lagi dengan pak Dul. Kata dia, Pilgub ini adalah sarana pemborosan yang memprihatinkan.

"Untuk beli MMT (spanduk plastik full colour), spanduk dan baliho adalah bukan barang murah. Semeter perseginya saja, kira-kira harganya Rp 23 ribu. Sekarang bayangkan, berapa ribu meter spanduk MMT dan baliho yang terpajang di pinggir jalan seluruh Jawa Tengah? Berapa ratus juta atau bahkan miliaran rupiah yang terbuang hanya untuk MMT?," ungkap pak Dul dengan kesal sambil menyeruput teh pagilarannya.

"Duit darimana ya untuk beli MMT itu?," tanya pak Kayat dengan nada sedikit berbisik.

Rupanya pertanyaan tentang MMT itu memancing celoteh Intan. "Mending kalo balihonya mencerdaskan. Hlaa wong kebanyakan isi kalimat spanduk itu gak mutu blas. Ora mudeng aku, males nyawang, balihonya lebai semua," ungkap Intan seperti jab petinju yang menghantam lawannya.

Dari pembicaraan di atas, mereka bukan sekedar sedang "ngrasani" atau dalam bahasa Indonesianya menggosipkan event Pilgub 2013. Namun ini adalah bentuk keprihatinan mendalam, mengingat secara sadar atau tidak sosialisasi melalui MMT, spanduk dan, baliho adalah sebuah pemborosan serta rawan pelanggaran.

Seperti yang terjadi pada Jumat 10 Mei 2013, KPU, Pamwaslu dan Satpol PP Kabupaten Kendal berupaya mencopot baliho bergambar salah satu pasangan cagub yang dinilai melanggar peraturan tentang larangan memasang alat peraga di titik tertentu. Seperti rumah ibadah, rumah sakit, puskesmas, kantor pemerintahan, rumah dinas, dan sejenisnya.

Mensikapi hal ini seharusnya semua calon gubernur Jateng 2013 paham tentang aturan dan tata cara memasang alat peraga kampanyenya. Satu hal yang perlu dipertanyakan, apakah ada aturan dari KPU, Panwaslu atau lembaga berwenang lain untuk tidak memasang alat peraga kampanyenya dengan cara di paku di pohon? Sungguh menyedihkan jika melihat para tim kampanye memaku alat peraganya di pohon. Mereka seakan tidak menyadari, pohon juga merupakan makhluk hidup yang menyerap karbondioksida untuk membantu manusia. (Aryo Widiyanto/Mar)

Aryo Widiyanto adalah pewarta warga yang bisa dihubungi lewat akun facebook: Aryo Widiyanto, twitter: @aryowidi, dan blogspot: aryowidiyanto.blogspot.com.

Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke citizen6@liputan6.com

Suka artikel ini?

0 Comments