Sukses

Inilah Proses Membuat Dodol di Betawi

Liputan6.com, Jakarta Beberapa anak kecil berkerumun di dekat wajan besar berisi adonan meletup-letup pada Sabtu, 7 Mei 2016. Seorang pria kekar mengaduk adonan yang makin lama semakin berat itu. Setelah agak kental, dihentakkannya adonan lengket berwarna hitam itu, lalu dicomotnya sedikit dan ditaruh di atas sebuah sobekan daun pisang. Lantas, diberikannya kepada seorang anak yang kemudian mencicipinya dengan gembira. Anak-anak yang lain berebut meminta pula, ingin merasakan dodol Betawi yang manis dan legit itu.

Dodol tak pernah lepas dalam kaitannya sebagai makanan khas orang Betawi saat hari raya. Bersama dengan wajik, geplak, tape uli dan manisan kolang-kaling, dodol hadir di atas meja di rumah-rumah orang Betawi di Jakarta. Kepopuleran dan sejarah dodol sulit dilacak, mengingat makanan ini juga populer di berbagai daerah lain. Kita mengenal ada yang disebut dodol Cina atau dodol Garut. Namun, antara dodol dari Betawi dan daerah lainnya memiliki rasa serta tekstur yang agak berbeda, meskipun mungkin bahan dasarnya hampir sama. Tapi komposisi, jumlah, dan cara membuatnya-lah yang akhirnya menjadikan masing-masing memiliki cita rasa tersendiri yang berbeda.

Di antara kue-kue tersebut, dodol adalah yang paling sulit cara membuatnya. Karena itu, saat membuat dodol, seringkali beberapa keluarga bergabung bersama. Kira-kira 15 hari sebelum Lebaran, beberapa keluarga mulai berembuk. Kerja bersama ini juga dimungkinkan karena tak semua orang memiliki wajan atau kuali khusus untuk memasak dodol. Wajan yang diperlukan bisa berdiameter satu meter.

Bayangkan seperti apa besarnya. Bahkan pada zaman dulu, bisa jadi di satu kampung di Jakarta hanya ada satu orang saja yang memiliki wajan semacam ini. Dulu di kampung saya di Kebagusan, wajan selebar itu hanya dimiliki Nyak Salihun. Karena itu, pemakaiannya harus digilir, terutama karena saat itu belum ada yang orang yang menjual dodol seperti sekarang ini. Pada zaman dulu, semua kue untuk Lebaran dibuat sendiri.

Foto yang diambil 23 Januari 2016 menunjukkan pekerja membuat dodol imlek di pabrik Nyona Lauw di Neglasari, Tangerang. Jelang Tahun Baru Imlek, permintaan dodol dan kue keranjang meningkat dua kali lipat. (Liputan6.com/JohanTallo)

Nyambat, mengajak orang banyak melakukan suatu pekerjaan berat untuk kepentingan yang mengajak, sering dipakai kaitannya dengan tradisi ini. Sebab, banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Pertama-tama membuat tepung ketan, lalu mengupas dan memarut kelapa untuk dibuat santan. Pekerjaan membuat dodol biasanya dilakukan selepas sahur.

1 dari 2 halaman

cara membuat

 

Mula-mula tepung ketan dan santan dicampur, kemudian diaduk-aduk dengan semacam sendok kayu besar dan panjang. Setelah itu dimasukkan gula merah dan gula pasir ke dalam adonan. Sewaktu campuran ini masih encer, pekerjaan mengaduk ini cukup enteng. Ibu-ibu dan anak gadis biasa melakukannya. Tapi saat adonan semakin berat dan susah diaduk, tugas ini akan diambil alih oleh laki-laki. Kaum bapak maupun para bujang akan bergiliran mengaduk sebab beratnya tugas ini. Maklum saja, meski dimulai sejak sahur, pembuatan dodol baru bisa selesai menjelang Ashar.

Dalam prosesnya, wajan tidak diletakkan di atas kompor, sebab tentu tak ada kompor yang sanggup menahan beratnya adonan. Gedebong pisang diletakkan di ketiga sisi untuk menahan, sedangkan kayu dijadikan bahan bakarnya. Maka, pekerjaan mengaduk dodol bukan saja mahaberat karena tak boleh berhenti sama sekali, melainkan juga membuat keringat bercucuran akibat terkena panas dan asap.

Setelah adonan jadi, dodol ditaruh dalam sebuah wadah yang disebut dengan tanding, lantas ditutupi plastik. Dodol yang baik tidak akan lengket dan menolak putus kala digigit. Jika masih sulit dipotong, artinya dodol belum masak betul. Selain itu, dodol yang enak adalah yang sudah didiamkan beberapa hari.

Dodol Betawi hampir tidak pernah lepas dari pada setiap acara besar bagi masyarakat asli Betawi. Karena saat ini semakin jarang yang nyambat membuat dodol, bermunculanlah komunitas-komunitas yang menjual makanan khas ini. Biasanya usaha ini dilakukan secara turun-temurun. Namun jumlahnya juga tidak banyak. Kecenderungan semacam ini tentu patut disayangkan, terutama mengingat dalam proses pembuatannya kita akan menemukan nilai-nilai kerja sama, gotong royong, persaudaraan, dan kerja keras. Nilai-nilai mulia ini ironisnya semakin tergerus bersamaan dengan tersingkirnya penduduk asli Jakarta ke pinggiran akibat berbagai kebijakan pemerintah provinsi yang tak ramah dan simpatik.

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6