Sukses

Murah Meriah, Tepung Larva Lalat Buah Jadi Solusi Kelaparan Dunia

Liputan6.com, Jakarta Kelaparan masih menjadi salah satu masalah dunia yang masih berlangsung. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa dari 7,3 miliar orang di bumi, sekitar 1 dari 9 orang menderita kekurangan gizi kronis.

Negara yang paling terkena dampak ini adalah negara berkembang. Sebanyak 51 juta korban adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun. Dengan populasi global yang diproyeksikan mencapai 9 miliar pada tahun 2040, kelaparan adalah salah satu masalah paling mendesak di dunia.

Sadar akan hal ini, perusahaan Flying SpArk yang berbasis di Israel memperkenalkan solusi yang menarik bagi kelaparan dunia. Perusahaan yang didirikan oleh Eran Gronich dan Yoram Yerushalmi menggunakan larva lalat buah untuk membuat bubuk protein dan minyak, keduanya tidak berbau dan tidak berasa. Produk ini kemudian dapat digunakan untuk membuat segala sesuatu mulai dari roti, pasta, hingga sereal.

Lalat buah memiliki umur hanya enam hari namun berkembang biak hingga 15 kali. Hal tersebut membuatnya mudah dan murah untuk deternaki dan dipanen. Hampir tidak ada limbah yang tercipta dalam prosesnya, karena semua bagian larva digunakan.

Larva lalat buah memberi mereka keunggulan dibandingkan sumber protein konvensional seperti unggas atau sapi. Bahkan lebih unggul daripada serangga seperti belalang atau jangkrik karena mereka tidak memiliki kaki, sayap, antena atau mata. Perusahaan ini berharap agar dengan menjadi bagian dari makanan manusia, setidaknya bisa mengurangi dampak negatif pada lingkungan.

"Protein larva tidak buruk. Ini sangat bagus, tidak menghasilkan gas rumah kaca," ujar Gronich dilansir dari The Grapevine. 

 

 

1 dari 2 halaman

Produk dari Larva Lalat Dilirik Perusahaan Raksasa

"Peternakan menggunakan air dalam jumlah yang besar sehingga menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Lautan sedang dipenuhi limbah," lanjut Gronich

Yoram Yerushalmi mengatakan bahwa keuntungan penting lain dari lalat buah adalah memiliki nilai nutrisi yang cukup tinggi. 

"Orang-orang bisa makan berbagai macam buah dan sayuran bergula, seperti wortel, labu, ubi jalar dan sebagainya. Jadi kita berpikir dan mengetahui bahwa nilai gizi larva yang kita proses menjadi bubuk sebenarnya dipengaruhi oleh apa yang mereka makan," kata Yerushalmi kepada Jerusalem Post.

Flying SpArk tahu bahwa meyakinkan konsumen untuk melewati faktor jijik dari memakan larva buah merupakan tantangan besar, namun tingginya permintaan akan makanan berbasis serangga dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa hal itu dapat diatasi. Selain itu yang mereka tawarkan adalah bubuk larva, bukan larva yang sebenarnya.

"Kami menjual bubuk putih yang terlihat seperti tepung, kami tidak menjual larva dalam bentuk aslinya," ujar Eran Gronich.

Flying SpArk telah menarik perhatian perusahaan IKEA. Perusahaan asal Swedia ini telah menciptakan program akselerator start up yang disebut IKEA Bootcamp. Misi dari program ini adalah untuk mendorong start-up yang bekerja untuk memecahkan beberapa masalah dunia yang paling mendesak.

"Kami sangat antusias untuk bergabung dengan IKEA dan kami memiliki kesempatan untuk belajar bagaimana bekerja dengan peritel raksasa seperti IKEA," kata Eran Gronich dalam siaran persnya.

"Ini benar-benar akan meningkatkan pengembangan produk kami dan kemajuan kami. IKEA akan bekerja sama dengan tim kami untuk mengembangkan produk dan mudah-mudahan bisa meluncurkannya di restoran IKEA," lanjut Gronich.

 

Penulis

Reza Sugiharto

 

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Kulit Biji Alpukat Ternyata Ampuh Obati Sakit Jantung dan Kanker
Artikel Selanjutnya
Doyan Makan Sushi? Ini Pilihan yang Tak Bikin Gemuk